Kabar dekat. Wawasan luas.
SEKILAS

Refleksi Sumpah Pemuda: Saatnya Lawan Hoaks dan Polarisasi di Medsos

Diperbarui:

img 7367

Oleh: Adityarini Christina Napitupulu, S.Sos., M.A., M.I.P., (c) M.M.
Wakil Ketua Bidang Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang, Sekretaris Taruna Merah Putih Jawa Barat, Ketua WANOJA Perjuangan Kabupaten Subang.

Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 28 Oktober 1928 merupakan tonggak sejarah penting yang menyatukan tekad pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang suku, agama, dan daerah untuk berbangsa dan bertanah air satu, yaitu Indonesia.

Sumpah Pemuda membuktikan bahwa ego kedaerahan harus dikesampingkan demi tujuan yang lebih besar, yakni kemerdekaan dan keutuhan bangsa. Tanpa momen ini, perjuangan bangsa di masa lalu akan terus terpecah-pecah.

Nilai Sumpah Pemuda saat ini tidak lagi diuji lewat pertempuran fisik, melainkan melalui cara kita menyikapi keberagaman di media sosial, melawan hoaks, menjaga toleransi, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu perpecahan. Semangat Sumpah Pemuda harus diteruskan melalui tindakan nyata, seperti belajar dengan sungguh-sungguh, berkarya, berinovasi, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Satu Nusa, Merajut Keberagaman di Ruang Digital

Menjaga persatuan di media sosial dan komunitas digital. Anak muda saat ini menghadapi tantangan polarisasi, hoaks, dan cyberbullying. Mengamalkan “Satu Nusa” berarti menjadi netizen yang bijak, toleran, dan tidak memecah belah bangsa lewat jemari mereka.

Satu Bangsa, Mengglobal Tanpa Kehilangan Identitas

Menghadapi gempuran budaya luar (seperti K-Pop, anime, Barat). Relevansinya bukan berarti anti-budaya asing, melainkan bagaimana anak muda bisa menjadi global citizen yang adaptif namun tetap bangga dan akar budayanya (budaya lokal Indonesia) tetap kuat.

Satu Bahasa, Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu dan Diplomasi

Di tengah tren penggunaan bahasa gaul, bahasa slang, atau percampuran bahasa Inggris (anak Jaksel), Bahasa Indonesia tetap menjadi pemersatu. Anak muda kekinian harus mampu menempatkan bahasa dengan baik—menggunakan bahasa Indonesia yang baik di forum formal atau digital, sekaligus menggunakannya untuk mengenalkan kekayaan budaya kita ke dunia internasional.

Jika ditarik ke konteks masa kini, Sumpah Pemuda bagi anak muda adalah tentang kontribusi nyata:

Perjuangan hari ini tidak lagi dengan senjata, melainkan dengan karya, teknologi, UMKM kreatif, dan prestasi di kancah internasional.

Selain itu, kolaborasi (Gotong Royong Modern). Pemuda 1928 bisa bersatu karena menyingkirkan ego kelompok. Pemuda hari ini harus bisa berkolaborasi lintas disiplin, lintas suku, bahkan lintas negara untuk menyelesaikan masalah sosial. Seperti isu lingkungan, kesehatan mental, dan pendidikan.

DITULIS OLEH

Redaksi

Artikel penulis

Buletin Redaksi ClueToday

Dapatkan rangkuman analisis mingguan, kabar daerah, dan perspektif mendalam langsung di kotak masuk Anda.

Tanggapan pembaca

Alamat email Anda tidak dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.