Catatan Lukman Enha
Saat saya melihat desain revitalisasi arena olahraga Lapang Bintang, begitu gembira dan antusias. Itu sekitar tahun 2022.
Gambarnya jelas, fasilitas olahraga itu akan dilengkapi menara pandang, cafetaria, arena pertunjukan dan area permainan anak. Wajahnya akan berubah total.
Yang paling menarik: ada “peta” gugusan pulau Indonesia. Akan terlihat jika difoto dari udara.
Mungkin ini fungsinya menara pandang. Bisa untuk melihat peta itu dari atas. Akan terlihat indah. Apalagi lintasan trek jogging akan dibuat warna-warni.
Yang jogging seharusnya lebih bersemangat. Beda dengan trek lari di Lapang Gasibu, Bandung. Warnanya hanya biru dan biru muda. Tapi yang menarik di Gasibu ada pilar-pilar berlogo kabupaten/kota di Jabar.
Saya kurang tahu luas arena Lapang Bintang ini berapa. Tapi kelihatannya ada sekitar lebih dari dua hektare. Disebut Lapang Bintang karena kabarnya, dulu tak jauh dari area olahraga itu banyak rumah dinas tentara. Para jenderal. Entah ada jendral bintang berapa. Tapi akhirnya arena olahraga ini disebut warga: Lapang Bintang.
Mungkin dari arena ini kelak akan lahir para bintang atlet nasional. Atau akan ada jendral dari Subang. Saudara kita atau anak cucu keturunan kita. Kelak.
Di kompleks olahraga ini sudah ada lapang badminton, basket dan voli di dalam Gor Gotong Royong. Tenis lapangan indoor pun dibangun sesuai standar. Olahraga ini pernah hits seperti Padel.
Ditambah lapang peninggalan event Porprov 2022: lapang latihan Petanque, olahraga asal Prancis dan lapang voli pantai. Pasir pantainya dipindahkan khusus.
Stadion Persikas pun hanya sekitar 500 meter dari arena Lapang Bintang. Lapang kebanggaan club Persikas yang pernah menembus Liga 2 nasional. Entah sekarang nasibnya bagaimana setelah heboh dijual.
Wajar kalau Subang jadi tuan rumah Porprov Jabar 2022 lalu. Arena olahraganya cukup lengkap dan luas. Wajar juga bisa berhasil masuk 10 besar. Di urutan juara ketujuh. Karena dukungan anggaranya pun cukup besar.
Akhirnya yang ditunggu tiba. Lapang dikupas, diratakan. Menara pandang pun dibangun. Awal tahun 2023 wajah Lapang Bintang itu sudah tuntas. Lebih indah.
Trek jogging warna-warni. Ada enam lintasan. Lintasan terluar sekitar 330 langkah kaki saya. Tentu akan beda jumlah langkah dengan Anda yang badannya lebih tinggi.
Cafetaria dibangun di sebelah timur. Rapih, luas, berwarna. Di selatan ada mushala dan arena permainan anak seperti di sekolah TK.
Tapi. Ternyata menaranya bukan seperti menara pandang di pantai. Bukan juga seperti “tower” gedung bertingkat di Jakarta. Tidak seperti menara di benteng militer.
Menara Lapang Bintang ternyata susunan bilah-bilah baja. Dicat merah putih. Di dalamnya ada tangga melingkar. Berarti memang bisa dinaiki. Pada ujung bagian luar menara ada patung garuda. Berbahan kuningan seperti yang ditempel di ruang kantor pemerintahan.
Ukurannya terlalu kecil jika dibandingkan diameter menara. Dari bawah tidak terlihat jelas. Warna merah putih terlihat mencolok. Mungkin simbol bendera negara. Tingginya sekitar 30 meter. Setara gedung 5 lantai. Diameter sekitar 15 meter.
Banyak yang komentar desain itu kurang estetik. Padahal bisa saja berbentuk nanas, dihiasi relief tangkuban parahu, atau apa saja yang mencerminkan Subang. Tidak ada ornamen tambahan atau bentuk lengkungan.
Padahal dunia ini indah setelah ditemukan bentuk lingkaran pada 3.500 SM oleh bangsa Sumeria. Pertama kali manusia bisa membuat roda.
Lihatlah kubah masjid. Terlihat lebih indah karena desain lengkung. Jembatan, benteng, istana dan beragam gedung di dunia tampak indah karena unsur lingkaran dan lengkungan.
Setengah lingkaran atau lekukan beraturan bisa memanjakan mata. Seperti Anda kalau memandang lengkungan pelangi. Seperti para lelaki yang betah melihat lengkukan model berjalan di atas cat walk. Itu alamiah.
Karena bentuk menara pandang yang kaku dan formal itu. Netizen menyebutnya “menara botol”.
Hingga kini tidak pernah bisa dinaiki warga. Sekadar untuk melihat Subang dari atas. Jadi ornamen yang diacuhkan. Tidak jadi land mark. Anak muda menyebutnya: tidak fotogenic. Tidak instagramable.
Saya hampir setiap hari lari pagi. Setelah solat Subuh. Selalu melihat menara merah putih itu berdiri kesepian. Warna trek jogging pun sudah memudar.
Cafetaria hanya diisi gerobak pedagang kaki lima. Tidak ada pedagang yang mengisi jongko permanen yang disediakan. Banyak pohon bunga pucuk merah di sekitar lapang pun mati. Mungkin sudah lama tidak disiram.
Sekali waktu, usai lari pagi, saya pernah mendadak memanggil staf untuk bawa plastik sampah. Karena banyak sampah di saluran air Lapang Bintang. Dibantu para petugas kebersihan lapang, 12 plastik sampah diangkut cator Dinas Lingkungan Hidup.
Beberapa petak pondasi dengan tulang besi masih dibiarkan mangkrak. Tertutup rimbun rumput. Entah akan dijadikan bangunan apa.
Tapi bagi saya, ini tempat jogging vaforit. Bisa berkeringat sesaat sebelum rutinitas antar anak ke sekolah dan bekerja.
Tempat pavorit juga bagi para pensiunan yang menjaga kebugaran, atlet, ibu-ibu senam, komunitas lari dan bapak-bapak yang ngasuh anaknya naik sepeda listrik.
Semoga Lapang Bintang makin indah.
Siapapun kita. Bisa jadi bintang di kehidupan kita masing-masing.(*)




