JAKARTA, CLUETODAY.ID — Warga kini bisa memantau informasi bencana geologi sekaligus mengetahui posisi mereka terhadap kawasan rawan bencana melalui ponsel. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi meluncurkan versi terbaru MAGMA Indonesia yang menghadirkan informasi gunung api, gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah dalam satu layanan.
Peluncuran berlangsung di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (22/10/26) lalu. Pembaruan ini menjadi bagian dari transformasi digital layanan informasi kebencanaan geologi agar masyarakat dan instansi terkait dapat mengakses informasi secara lebih mudah.
Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan, informasi yang dihimpun melalui sistem tersebut dapat dibagikan kepada kementerian dan lembaga lain untuk memperkuat pelayanan informasi kebencanaan serta mitigasi risiko.
“Jadi nanti dari pemanfaatan sistem yang sudah dibangun, informasi yang sudah dibangun ini kita bisa sharing-kan dengan Kementerian/Lembaga,” ujar Yuliot.
Ia juga meminta agar hasil pemantauan kebencanaan diterjemahkan menjadi langkah konkret oleh setiap instansi, bukan sekadar menjadi informasi.
“Dari mitigasi ini harus kita uraikan di dalam rencana aksi untuk setiap Kementerian/Lembaga,” katanya.
Ada Fitur untuk Mengenali Lokasi Rawan Bencana
Salah satu pembaruan utama MAGMA Indonesia adalah fitur Geohazard Location Awareness. Fitur ini membantu pengguna mengenali posisi mereka terhadap kawasan rawan bencana geologi.
Aplikasi tersebut membawa 10 pembaruan fitur utama. Selain informasi lokasi rawan bencana, pembaruan mencakup pemantauan visual melalui CCTV, akses live seismogram yang lebih stabil, riwayat aktivitas kebencanaan, serta integrasi data melalui Application Programming Interface (API).
Untuk mendukung penyampaian peringatan dini, sistem MAGMA Indonesia juga menggunakan Common Alerting Protocol (CAP), yakni format standar untuk penyebaran informasi peringatan.
Versi terbaru MAGMA Indonesia tersedia melalui web dan perangkat Android, serta kini dapat diakses oleh pengguna iOS. Dengan dukungan berbagai platform tersebut, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh informasi kebencanaan geologi.
Informasi Bencana Diharapkan Mendorong Aksi Dini
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, pengembangan MAGMA Indonesia tidak hanya ditujukan untuk menyajikan data, tetapi juga membantu masyarakat mengambil langkah lebih cepat ketika menghadapi potensi bencana.
Integrasi data melalui API juga memungkinkan informasi MAGMA Indonesia dimanfaatkan oleh lembaga lain, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, kementerian, dan lembaga terkait.
Melalui integrasi tersebut, informasi kebencanaan diharapkan dapat lebih mudah diakses dalam sistem masing-masing instansi. Langkah ini juga ditujukan untuk memperkuat koordinasi dan mempercepat penyampaian informasi kepada pengambil kebijakan maupun masyarakat.
“Sistem ini pada intinya dirancang untuk memberdayakan masyarakat agar mampu melakukan aksi dini (early action) yang tepat sasaran, sehingga risiko dan dampak dari bencana geologi dapat diminimalisir,” ujar Lana.




