Petikemas Pelabuhan Patimban

Picture of Redaksi

Redaksi

whatsapp image 2026 08 09 at 19.09.46

Catatan Lukman Enha

Kabar gembira yang ditunggu pun datang. Aktivitas di terminal petikemas Pelabuhan Patimban sudah dimulai. Tepatnya pada 12 Juli 2026.

Awalnya salahsatu manajer di WAG internal Perumda TRS membagikan tautan berita. Berisi kabar gembira itu: terimal petikemas Pelabuhan Patimban resmi beroperasi. Kami pun gembira mendengar kabar itu.

“Kirim surat ke KSOP Patimban, kita akan berkunjung,” saya langsung menugaskan staf.

Ternyata berita petikemas Patimban beroprasi juga ramai di Jepang. Disiarkan media pemerintah Jepang: Nipon Hoso Kyokai (NHK).

Pelabuhan Patimban adalah buah kerjasama pemerintah Indonesia dengan Jepang.  Sudah tiga kali Jepang mencairkan pinjaman untuk pembangunan Pelabuhan Patimban. Sejak 2017, sudah sekitar Rp 32 triliun.

Maka untuk perencanaan dan proses pembangunannya, Jepang menugaskan Japan International Cooperation (JICA) bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan.

JICA mirip seperti lembaga USAID-Amerika dan OBOR-Tiongkok. Begitulah negara-negara adidaya mendirikan lembaga yang tugasnya membantu pembangunan infrastruktur negara berkembang, seperti Indonesia.

Lembaga itu memberikan pinjaman dana. Untuk pembangunan pelabuhan, jalan raya, kereta api, bandara dan apa saja.

Negara donor akan memiliki saham. Ya nagih cicilan, ya dapat keuntungan dari usahanya. Ya kirim tenaga kerjanya. Tiga keuntungan sekaligus. Begitulah enaknya negara yang punya banyak uang. Wajar saja kalau Jepang lebih kaya dari Indonesia.

Gayung bersambut. KSOP menerima tim Perumda TRS pada 17 Juli. Kami mengajak tim dari Cabang Pamanukan.

Tim KSOP menyampaikan paparan fase pembangunan Patimban. Membenarkan bahwa aktivitas ekspor-impor, terimal petikemas sudah berjalan.

Inti pembicaraan bukan petikemas. Tapi berapa potensi serapan air untuk Pelabuhan Patimban. Perumda TRS harus bersiap.

Berdasarkan kajian JICA, di tahun 2026 ini harusnya sudah 7 liter per detik (lpd). Tahun 2028 sebesar 17,5 lpd, 2030 dibutuhkan 29 lpd, 2035 naik jadi 57 lpd dan akan terus meningkat hingga 2045 diperlukan 104 lpd.

Sederhanaya, 1 lpd itu bisa untuk sekitar 80-100 pelanggan rumah tangga. Tapi kami tidak begitu khawatir. Debit air untuk ke Pelabuhan Patim masih tersedia sekitar 40 lpd. Air bakunya dari irigasi Tarum Timur.

Terimakasih Pak Soekarno dan Pak Harto. Jasamu amat besar untuk Subang. Berkat bendungan Jatiluhur dan Saluran Tarum Timur, Subang jadi lumbung pangan.

Tapi saat ini serapan air bersih Pelabuhan Patimban dari Perumda TRS masih kecil. Baru terserap sekitar 2-3 lpd. Pipa sudah terpasang sejak 2021 lalu, sebelum pelabuhan diresmikan Presiden Jokowi.

Pengelolaan pelabuhan dikendalikan oleh PT Pelabuhan Patimban Internasional (PPI). Terminal petikemas juga dikendalikan oleh beberapa entitas perusahaan yang digandeng oleh PT PPI.

Kita sudah tahu, pemegang saham mayoritas PT PPI yaitu pengusaha kondang Chairul Tandjung (CT). Pemilik CT Corp.

Pada Minggu 19 Juli, pukul 02.06 WIB, Pelabuhan Patimban kedatangan kapal raksasa bernama MV. MSC CARLA III. Bersandar di Terminal Petikemas. Kapal seukuran tiga lapang sepak bola itu berlayar dari Singapura.

Kegiatan bongkar muat mencapai 1.632 TEUs, yang terdiri atas 1.248 TEUs muatan ekspor dan 384 TEUs muatan impor.

Sudah terbayang berapa kapasitas kapal itu? Bayangkan saja, 1 TEUs sama dengan 1 ukuran petikemas seberat antara 21-28 ton. Panjang petikemas yaitu 20 kaki atau sekitar 6 meter.

Makanya ukuran kapal sering menggunakan satuan TEUs: Twenty-foot Equivalent Unit (s). Sekarang Anda sudah bisa membayangkan?

Barang yang diimpor yaitu komponen mobil listrik Build Your Dream (BYD) yang ada di Cipeundeuy, Subang.

Sekarang barang itu masih harus diangkut lewat jalan muter. Jalur Patimban-Pamanukan-Subang-Cipali-pabrik BYD. Tapi gerbang tolnya sudah jadi.

Tahun depan, sebentar lagi. Barang dari Pelabuhan Patimban bisa diangkut langsung melalui tol Pelabuhan Patimban-BYD. Sepanjang 30 Km.

Minggu lalu saya diskusi dengan pengusaha Subang yang rajin ekspor kopi. Ia mengaku gembira kalau aktivitas ekspor impor sudah bisa dilakukan di Pelabuhan Patimban. Biaya akan lebih hemat.

Apalagi di Pelabuhan Patimban juga sudah ada kantor Bea Cukai, di bawah koordinasi Bea Cukai Purwakarta. Juga sudah ada ruang karantina.

Toooot!!

Spontan kami menoleh ke arah suara dari laut Patimban. Ternyata ada kapal yang mendekat. Pak Hadi S. Arif yang mendampingi kami langsung melihat jadwal. Ia pasti tahu, jabatannya Kasi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan.

“Iya itu kapal yang akan bersandar sekarang. Mengangkut mobil,” katanya.

Aktivitas bongkar muat mobil memang sudah lama berjalan. Car terminal yang terbangun bisa menampung lebih dari 200 ribu unit.

Sedangkan kapasitas terminal petikemas pada tahap awal sekitar 250.000 TEUs per tahun. Maksimalnya hingga 7,5 juta TEUs per tahun.

Kami pun sepakat untuk menunggu kapal bersandar. Menyaksikan kapal raksasa didorong kapal “petugas parkir” tetap membuat penasaran.

Terutama bagi bapak-bapak.

Setiap orang pun mengeluarkan hape. Memvideo dan memotretnya. Untuk status WA atau konten medsos. Itu bonus di sela kerja.

Pak Hadi pun menjelaskan, aktivitas ekspor-impor akan berkembang pesat jika pelabuhan sudah didukung oleh kawasan back up area.

“Nanti di kawasan back up area sekitar 300 Ha. Ada untuk pergudangan, kawasan bisnis seperti perhotelan dan pendukung komersil lainnya,” jelasnya.

Itu jangka panjang, saya memastikan lagi yang sudah pasti-pasti saja. “Kapan hydrant air di dek dermaga ini digunakan untuk mengisi air bersih ke kapal?”

“Ini sudah tersambung jaringannya ke ground tank. Nanti tinggal konek saja,” kata Pak Hadi.

Setelah melakukan ritual khas Indonesia: foto bersama, kami pun berpamintan dengan membawa harapan lebih baik untuk Subang.(*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top