Oleh : Teguh Deni Aljabar, Pegiat Literasi Subang
Sebagai pengantar tulisan, teringat dengan sebuah surat terbuka yang di tulis oleh Wiji Thukul Wijaya, tertuju kepada Emha Ainun Najib yang banyak orang menyebutnya Cak Nun, tertulis pada tanggal 17 juni 1986, di Sorogenen Rt 06 Rw V, Solo – Jawa Tengah. Surat yang menceritrakan tentang kegelisahan Wiji Thukul sesaat setelah dirinya membacakan dua puisi yang berjudul “Apakah Tuhan Masih Melihat” dan “sajak seorang laki-laki” puisi yang dianggap menghembuskan bau politik, pada moment hangat halal bihalal yang membalut agenda peresmian berdirinya salah satu grup teater di lingkungan itu.
Dalam pesan tersebut Wiji Thukul menarsikan sebuah keresahan yang terjadi pada dirinya menghadapi realitas sosial, sehingga Sebagian bentuk keresahannya ia ikat dalam pesan terbuka kepada Cak Nun. Tentu dalam konteks tersebut Ia sedang melihat berbagai persoalan pekik yang terjadi pada kondisi bangsa, bukan tanpa sebab melihat ketipangan realitas sosial.
Dalam surat tersebut tampak jelas Wiji Thukul menulis “Bahwa Budaya bisu betul-betul sudah merasuk ke dalam kehidupan bermasyarakat kita”. Penggalan kalimat tersebut representatif berbagai peristiwa dalam lintas waktu, bukan dengan tujuan pendek namun mencakup aspek kehidupan yang menghadirkan pertanyaan setiap insan yang berpikir.
Kala itu Wiji Thukul nyaring mendengar teriakan pemuda yang tersandra oleh sempitnya lapangan kerja, lonjakan harga bahan pokok, pembangunan inprastruktur. Seolah pengap melihat kondisi yang terjadi, lagi-lagi masyarakat yang selalu dijadikan objek politik, bukan subjek politik.
Demikianlah yang dirasakan Wiji Thukul, pengap ditengah negara yang selalu dijadikan arena pertempuran kelas dunia. Maka tak heran dirinya menggap sedang bertempat diarea “Lorong bisu yang mekanis”.
Namun demikian, baginya kondisi tersebut tetap menjadi realitas kecil yang harus dituntaskan dengan perubahan yang bersumber atas kebutuhan perbaikan tatanan masyarakat. Tak heran dalam surat tersebut diungkapkan “tapi ada peristiwa kecil yang bikin hatiku geli. Lucu tapi sekaligus membikin getir”. Bagaimana Wiji Thukul melihat sebuah persoalan bangsa dengan luwes dan menarik tantangan baginya Melihat perkembangan hari ini, surat tersebut cukup mewakili tandusnya
area penghidupan yang diharapkan. Geli akan ragam program yang dipaksakan tumbuh tidak tepat sasar, kebijakan yang dianggap probelamatik, bahkan perilaku pejabat publik yang selalu menampikankehidupan glamor. Bagaimana ditengah himpitan gelombang kepentingan, diskursus intelektual sebagai kontrol kebijakan tetap subur, hingga menjadi alternatif pengimbang kebijakan agar tidak semrawut.
Saripati perjalanan juang Wiji Thukul harus di refleksikan menjadi stamina perubahan saat ini, melihat persoalan bangsa mengharuskan semua kaum terdidik yang terkategorikan dalam istilah intelektual haruslah turun tangan, mempersiapkan berbagai langkah konkret, menenun harapan besar guna penghidupan baik dikemudian waktu.
Mengambil makna intelektual dari Edwar Said adalah sosok dengan peran publik yang sangat spesifik, kritis, dan berani. Dalam bukunya yang terkenal Representations of the Intellectual, berdasarkan Reith Lectures tahun 1993, Said mendefinisikan intelektual sebagai individu yang memiliki bakat untuk mewakili, mengungkapkan, dan membela ide, pandangan, atau kepentingan tertentu di hadapan publik.
Tinggal bagaimana hari ini kita mampu merepresentasikan peran tersebut dalam gerakan perubahan yang tentu memberikan dampak bagi masyarakat, tidak melulu abai atau mengikuti putusan yang berlaku di atas negeri ini. Kita harus menyadari bahwa Indonesia dijadikan salah satu area
pertempuran kelas dunia dengan berbagai kepentingan. Lantas mengapa sampai hari ini kita tetap diam, tanpa peran yang kontributif demi kebaikan bangsa kedepan.
Pesan terbuka tersebut masih sangat relevan, menyikapi berbagai kegelisahan masyarakat, sepeerti halnya gelombang masa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang akan menggelar unjukrasa di depan Gedung DPR RI, mengingatkan bahwa perubahan bukan buah dari para penguasa, bukan pula sebuah keniscayaan, mereka bergelombang menyoroti agenda utama mendesak pemerintah mengesahkan RUU Perampasan Aset yang mandek.
Mereka juga mendorong penerapan hukuman mati bagi pelaku tindak pidana korupsi.
Mengapa akhir-akhir ini gelombang masa itu menjadi sorotan publik? Bukan karena kentalnya kepentingan didalamnya, namun gerakan yang organik yang lahir dari keterpanggilan untuk mengetuk pintu hati para penguasa. Ada sistem yang harus disempurnakan, ada pula lembaga negara yang harus dikawal bahwa kepentingan masyarakat menjadi landasan, bukan malah menjadi monopoli mereka yang memiliki kuasa.
Seyogyanya gerakan masyarakat Pati tersebut mendapatkan empati, membuka ingatan publik bahwa setiap insan terdidik memiliki perannya masing-masing, bukan pula untuk dicacimaki, karena satu aspek politis didalamnya. Mari lihat secara utuh, bahwa ada pesan yang harus disampaikan.
Gelombang masa itu mengingatkan untuk turun tangan andil menyelesaikan persoalan, agar cita-cita bangsa tetap hidup. Agar negara ini tetap abadi hingga kelak Tuhan menyudahi skenario di bumi. Tentu sejak saat ini, mari mulailah kembali adil sejak dalam berpikir andakata Pramoedya Ananta Toer menyampaikan.
Mari bergerak, menuntaskan apa yang hendak dimulai, mari bergeser dari ketertinggalan menjadi kemajuan.Bukankah para pendiri bangsa ini sudah menyisakan pesan bahwa gelombang perubahan besar dimulai dari riyak riyak kecil yang konsisiten dan terus dilakukan, bukan menunggu hasil dari rekayasa besar yang tengah dilakonkan oleh mereka pemilik kepentingan di negari yang mengatasnamakan tanah dan air, Indonesia.




