Pelajar Subang Lolos ke ITB, Bukti Tekad Dilla Ditengah Keterbatasan Ekonomi

Picture of Cecep M yusup

Cecep M yusup

SUBANG, CLUETODAY.ID — Namanya Ratna Dilla Safarina. Umurnya 18 tahun. Dia baru saja melakukan “kejahatan” yang paling indah: mendaftar ke Institut Teknologi Bandung (ITB) tanpa orang tuanya tahu.

Dilla bukan anak orang berada. Ayahnya, Arif Sarifudin, adalah pejuang hidup. Kerjanya membordir kain dan berjualan seragam sekolah di gang sempit Jalan KH Agus Salim, Subang.

Di rumah itu, ketika Dilla bicara soal kuliah, orang tuanya realistis saja: “Kuliah di Subang saja, Nak.”

Tapi Dilla punya tekad melirik ke arah Bandung. Kampus Ganesha, kampus bergengsi tempat begawan negeri ini belajar. Dia juga punya guru-guru di SMAN 1 Subang yang lulusan ITB.

Dia melihat cara gurunya mengajar berbeda. Bernas, dan berkelas. Di situlah tekadnya mengeras. Diam-diam.

Dilla tidak butuh validasi sebelum terbukti. Dia justru memilih “berperang” di meja belajar dengan jadwal yang bisa membuat remaja lain menyerah: Pukul 03.00 pagi, saat Subang masih lelap, Dilla sudah bangun.

Dia membedah soal-soal sulit hingga azan Subuh berkumandang. Pukul 06.00 – 15.00: Menghabiskan energi di sekolah. Sore – hingga tengah malam, masih belajar. Masih bergelut dengan angka dan logika.

Dia tidak banyak bicara di sekolah. Teman-temannya pun tidak banyak yang tahu kalau anak tukang bordir ini sedang membidik kursi di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.

“Orang-orang di sekolah pun enggak banyak yang tahu gitu saya ada keinginan untuk ke ITB. ‘Kenapa gak bilang ke ibu, daftar ke ITB,” ujar Dilla menirukan pertanyaan guru BK-nya.

Kenapa diam-diam? Dilla tahu diri. Kalau dia bilang ingin ke ITB, ayahnya pasti akan langsung pening memikirkan berapa jumlah angka “nol” di belakang biaya kuliahnya.

Dilla ingin memberikan kejutan, atau setidaknya, memikul beban harapannya sendirian dulu.

Tanggal 31 Maret 2026 menjadi harinya. Pengumuman keluar. Nama Ratna Dilla Safarina tercantum sebagai mahasiswa ITB. “Ngerasa bersalah juga sih, enggak jujur diawal ke orangtua daftar ke ITB,” katanya.

Ayahnya kaget setengah mati. Bukan Dilla yang memberi tahu, tapi kakaknya. Arif sang ayah hanya bisa tertegun. Bahagia? Tentu. Melihat anaknya berhasil ke perguruan tinggi. Arif yang hanya lulusan SD, bayangan biaya langsung menari-nari di kepalanya.

Namun, itulah ajaibnya tekad. Tuhan seolah membukakan jalan bagi mereka yang sudah habis-habisan berusaha. Dilla mendapatkan beasiswa dari Paragon. Kampus pun turun tangan mencarikan bantuan lainnya.

Kini, tekad Dilla terwujud. Dia membuktikan bahwa untuk terbang tinggi, Cukup tekad yang sekeras baja dan disiplin jadi bukti.

Dilla telah membayar lunas rasa bersalahnya kepada orang tua dengan sebuah kebanggaan yang tidak bisa dibeli dengan bordiran mana pun.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top