Kabar dekat. Wawasan luas.
SEKILAS

Belajar dari Sunda Kecil

9d7889c5 e80a 48ad 84f3 7c0f919ac798

Catatan Lukman Enha

—
Ini baru pertama kali saya bicara dekat dengan beliau. Setiap yang saya sampaikan akan dikejar. Ditanya lebih dalam dan lebih detil.

Berupaya memahami. Lalu menimpalinya dengan logika yang mudah dicerna. Tak lupa menyampaikan komitmen dukungan.

Ritme cepat. Kritis. Tipikal ingin cepat mengambil keputusan. Begitulah gaya Rona Mairansyah. Sekda Subang yang baru dilantik 1 Oktober lalu. Dilantik usai upacara Hari Kesaktian Pancasila. Sederhana.

“Anggaran terbatas. Ya sudah dilantik sambil upacara. Inilah pelantikan Sekda yang dihadiri lengkap oleh TNI-Polri,” begitu kata Bupati Reynaldy saat pelantikan.

Diskusi pendek-pendek dan cepat itu terjadi saat di Bali. Ia pun sigap jika Bupati Reynaldy memberikan perintah di sela diskusi. Lulusan STPDN memang dilatih begitu.

Apalagi Pak Rona pernah menjadi ajudan di zaman Bupati Abdul Wahyan. Tahu “selera” bupati.

Sejak 2023 ngurusin layanan air bersih. Baru kali ini kami studi tiru ke Perumda lainnya bersama Bupati sekaligus Sekda. Suatu kehormatan. Sebab keputusan penting ada di mereka berdua. Keputusan politik dan administratif.

Menandai komitmen kuat Pemda Subang, memberikan layanan air bersih terbaik untuk warga. Tentu, yang dikunjungi, Tirta Mangutama, Bali, juga merasa amat terhormat.

“Kami merasa sangat terhormat. Kami juga Sunda. Sunda kecil,” kata Dirut Tirta Mangutama, Bali, I Wayan Suyasa.

Itulah sebutan dari para pelaut yang mengelilingi dunia terhadap nusantara. Bangsa Portugis dan Belanda abad 16 silam. Hanya membagi nusantara ke dalam dua gugusan.

Sunda Besar dan Sunda Kecil.

Gugusan pulau besar disebut Sunda Besar (Greater Sunda Islands): Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Sisanya gugusan pulau di sebelah timur disebut Sunda Kecil (Lesser Sunda Islands): Bali, Lombok, NTT dan NTB.

Tahun 1945, Indonesia yang baru berdiri juga memberi nama Provinsi Sunda Kecil untuk gugusan pulau kecil itu. Ibu kotanya di Singaraja, Bali. Baru kemudian di tahun 1958 dimekarkan menjadi tiga provinsi: Bali, NTB dan NTT.

“Kami juga akan agendakan berkunjung balik ke Sunda besar. Ke kakak kami,” tambah I Wayan mencairkan suasana. Jadi terasa lebih akrab.

Bupati muda Reynaldy juga memuji tuan rumah. Ia berkesan dengan gedung Perumda Tirta Manguntama. Berarsitektur khas Bali. Hari itu jiga pegawainya berkostum khas Bali. Lengkap dengan udeng-nya.

“Ini gedungnya mewah. Lebih mewah dari kantor Bupati Subang,” katanya. Galak tawa menambah suasana makin akrab.

I Wayan tersipu dan tersanjung. “Ya kami bangun sendiri dari kas perusahaan. Cashflow sempat terganggu. Sekarang berangsur pulih,” katanya.

Gedung perusahaan memang simbol. Sejauh mana perusahaan maju, kesan pertama dari penampilan gedung dan pegawainya.

Saya sering sampaikan ke staf. Psikologis orang akan beda, ketika datang ke gedung kementerian dan kantor desa. Ada aura gedung.

Zaman kerajaan dulu, kehebatan tercermin dari benteng kerajaan. Kokoh, tinggi, besar dan kuat.

Tapi kini, banyak perusahaan dan toko virtual/homeless. Tanpa memiliki gedung. Biasanya perusahaan yang operasionalnya bisa dijalankan online. Jualan online.

Tirta Mangutama tidak hanya bagus dari gedungnya yang dilengkapi lift. Manajemen pembayaran dari pelanggan juga sangat baik. Setiap bulan hampir 100 persen pelanggan bayar lunas.

Rasanya bikin penasaran. Bagaimana bisa seperti itu. Kami, bisa sampai 80 persen pun sangat jarang. Rata-rata 70 persen lebih. Bayar rapel sudah jadi budaya.

Rupanya, sistem budaya Bali yang mendorong warganya patuh membayar utang. Termasuk membayar tagihan air.

Selain pemerintahan desa, mereka punya sistem desa adat. Punya sistem “bank” yang sudah berjalan sejak tahun 1984. Disebut Lembaga Perkreditan Desa (LPD).

Diinisiasi oleh Gubernur Bali saat itu: Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Dari mana idenya? Ternyata terinspirasi dari Lumbung Pitih Nagari di Sumbar.

Kini makin profesional. Sudah diakui OJK. Perputaran uangnya sudah lebih dari Rp 30 triliun se-provinsi Bali.

Pelanggan Tirta Manguntama bisa membayar tagihan air via LPD. Jika ada yang nunggak cicilan air atau apa saja, diumumkan.

“Itu bakal malu. Pasti bayar. Makanya tunggakan kami sangat kecil. LPD sangat membantu. Itu sudah jadi budaya,” kata Sekper Tirta Manguntama.

Mungkin. Dulu. Koperasi Unit Desa (KUD) ala Soeharto terinspirasi dari LPD atau Lumbung Pitih-Sumbar.

Mungkin. Kini. KDKMP ala Prabowo terinspirasi dari ketiganya. Tapi bagaimana nasib KDKMP di Bali? Jika warga memilih LPD.

Kami pun menunggu, apakah warga bisa bayar tagihan PDAM di Kopdes KDKMP. Belum ada kabar baik.

Ah rasanya sulit meniru LPD di Subang. Akar budayanya beda.

Akhirnya kami pun pindah tempat. Ingin meniru teknologi pengolahan airnya.

Di Bali tidak banyak sungai. Hanya satu sumber danau buatan yang diolah. Itu pun airnya “berwarna”. Maka harus diolah dengan teknologi yang baik. Digunakanlah pengolahan Membrane Bio-Reactor (MBR).

Keunggulannya: tidak perlu lagi bahan kimia untuk membunuh bakteri dan penjernih. Tidak perlu lagi membubuhkan PAC dan kaporit.

Membran yang digunakan sudah bisa menyaring bakteri. Pori membran sangat tipis. Tidak terlihat, hanya 0,04 mikron. Ukuran bakteri rata-rata 0,8-10 mikron. Air yang dihasilkan super jernih. Sangat layak minum dan sehat.

Tinggal satu pertanyaan yang tersisa: apakah teknologi MBR mahal? Ini yang akan dibahas lebih lanjut. Kadang keinginan terhambat karena kekurangan saldo.

Setidaknya kami optimis, teknologi itu bisa dihadirkan di Perumda TRS. Sebab, Pak Sekda rela “blusukan” melihat teknologi MBR yang digunakan di Bali.

“Berarti tinggal kita tindaklanjuti ya. Industri di Subang harus pakai air PDAM kalau teknologi ini sudah siap,” katanya, ikut senang.

Apalagi Bupati Reynaldy. Sudah lebih dulu, tahu teknologi MBR di Bali ini. “Tindaklanjuti ya,” katanya memberi perintah singkat.

Kami pun sudah tahu MBR. Beberapa kali ada yang menawarkan. Hanya harganya sangat mahal. Tapi yang kami lihat di Bali rasanya akan lebih terjangkau. Makin lama, teknologi akan makin murah. Seperti hape.

Dari Sunda kecil itu banyak hal besar. Ide besar. Keinginan besar.

Subang bagian dari Sunda besar. Aneh kalau keinginan besar saja tidak punya. Maka jangan aneh juga, kalau saldonya kecil.(*)

DITULIS OLEH

Redaksi Clue

Artikel penulis

Buletin Redaksi ClueToday

Dapatkan rangkuman analisis mingguan, kabar daerah, dan perspektif mendalam langsung di kotak masuk Anda.

Tanggapan pembaca

Alamat email Anda tidak dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.