INTERNASIONAL, CLUETODAY.ID —– Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terbatas ke Pulau Qeshm, Iran, pada Senin (02/11/26).
Pemerintah AS menyebut operasi tersebut sebagai tindakan defensif untuk melindungi aset militernya di kawasan.
Sebagaimana laporan media CNN, salah seorang pejabat mengatakan, serangan dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran yang menembaki pesawat milik Amerika Serikat.
Pejabat AS lainnya menyebut serangan tersebut merupakan langkah pertahanan setelah Iran menggunakan rudal permukaan-ke-udara terhadap aset Amerika.
“Ini merupakan tindakan defensif terhadap penggunaan rudal permukaan-ke-udara oleh Iran terhadap aset AS,” kata salah seorang pejabat kepada CNN.
Serangan tersebut disebut berskala terbatas dan tidak menunjukkan dimulainya operasi tempur besar seperti yang sebelumnya sempat dipertimbangkan oleh pemerintah AS. Namun, insiden ini memperlihatkan bahwa ketegangan militer antara kedua negara masih belum sepenuhnya mereda.
Menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut, pemerintah AS sengaja tidak banyak mempublikasikan serangan itu agar tindakan defensif tersebut tidak dibesar-besarkan.
Pulau Qeshm Punya Posisi Strategis
Pulau Qeshm memiliki posisi strategis karena berada sekitar 14 mil dari Bandar Abbas, salah satu kota pelabuhan penting di Iran.
Wilayah tersebut juga berkaitan erat dengan kendali Iran atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Sebelum perang berlangsung, sekitar 20 juta barel minyak melintasi jalur perairan strategis tersebut setiap hari.
Amerika Serikat sebelumnya juga pernah menargetkan Pulau Qeshm selama konflik berlangsung.
Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Masih Mungkin
Di tengah ketegangan militer, Presiden AS Donald Trump menyatakan peluang diplomasi dengan Iran masih terbuka. Melalui unggahan di media sosial pada Senin, Trump menyebut kesepakatan antara kedua negara masih mungkin tercapai.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump juga mengatakan bahwa situasi saat ini belum dapat disebut sebagai perang yang sedang berlangsung secara intensif. Namun, ia memperingatkan bahwa konflik dapat kembali meningkat apabila kesepakatan tidak tercapai.
“Kita tidak sedang berperang. Semua orang mengatakan, ‘Kalian sedang berperang!’ Padahal, kapan terakhir kali kita menembakkan sesuatu?” ujar Trump dalam wawancara tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance turut menyampaikan nada optimistis terkait perkembangan diplomasi. Ia mengatakan Washington dan Teheran telah mencapai sejumlah kemajuan dalam mencari jalan keluar dari konflik.
“Kami tentu telah mencapai beberapa kemajuan. Kita lihat apakah kami bisa membuat kemajuan lebih lanjut,” kata Vance kepada wartawan.
Vance juga menyebut pemerintah AS masih memiliki sejumlah pilihan tindakan, baik melalui jalur militer maupun nonmiliter.
Meski demikian, serangan terbaru di Pulau Qeshm menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan masih rentan. Di satu sisi, Washington dan Teheran disebut terus membuka peluang kesepakatan, tetapi di sisi lain opsi militer belum sepenuhnya dikesampingkan.




