Kabar dekat. Wawasan luas.
SEKILAS

Kolaborasi Jaga Masa Depan Pesisir Mayangan 

Diperbarui:

whatsapp image 2026 10 07 at 20.32.23

SUBANG, CLUETODAY.ID — Upaya pelestarian kawasan pesisir dan mitigasi perubahan iklim memerlukan sinergi erat lintas pihak agar manfaatnya berkelanjutan.

Semangat tersebut melandasi PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) bersama Yayasan Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (KKPMP) Mayangan saat resmi menggelar kegiatan Exit Program Tangguh Iklim di Q Hotel Mayangan, Rabu (07/10/26).

Mengusung tema “Bersama Melindungi Pesisir, Membangun Ketangguhan Masyarakat”, forum ini menjadi momentum konsolidasi multipihaK. Mulai dari dunia usaha, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, pegiat lingkungan, hingga masyarakat nelayan.

Sejak awal diinisiasi pada 2019, menurut Field Relations & CID-CSR Officer, Community Development Officer PHE ONWJ, Iman Teguh, program Tangguh Iklim dirancang bukan sekadar bantuan karitatif (charity), melainkan penguatan kapasitas masyarakat.

Iman menerangkan, pembentukan Yayasan KKPMP sendiri secara konsisten mensyaratkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Sehingga, diharapkan setiap intervensi program benar-benar berangkat dari asesmen kebutuhan riil warga pesisir.

“Konsep kita itu pemberdayaan, bukan infrastruktur semata. Pembelajaran ini sebenarnya sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat dengan metode yang bisa dikerjakan langsung,” ujar Iman Teguh, saat menjadi pembicara Exit Program itu.

Ia menambahkan, masa pendampingan perusahaannya memiliki batasan regulasi program. Sehingga rawatan dan pemanfaatan aset pasca program kini bertumpu komitmen dan kesadaran masyarakat setempat.

“Apapun yang nanti terjadi, saya berharap yang sudah dibangun ini yuk kita jaga sama-sama. Kita manfaatkan untuk keekonomian bersama, seperti ekowisata, dan kita turunkan ego kita semua agar bisa maju bersama,” pesan Iman.

Kolaborasi Jaga Mayangan

PHE ONWJ dan Yayasan KKPMP telah melakukan pemasangan pemecah ombak dan penahan abrasi (APOS Trap). Terbukti memberikan dampak ganda yang langsung dirasakan oleh warganya. Selain meredam laju abrasi daratan, struktur APOS Trap berfungsi efektif layaknya rumpon alami yang menjadi tempat pemijahan ikan, kepiting batu, dan aneka kerang.

“Sangat bermanfaat sekali. Kalau bisa jangan berhenti sampai di sini, terus lanjut, terus kolaborasi sama desa. Insyaallah Desa Mayangan terbuka untuk ke depan dan seterusnya,” tutur Kepala Desa Mayangan, Darto dalam sambutannya.

Pegiat pemuda dan lingkungan Subang, Teguh Deni Aljabar, menggarisbawahi  persoalan wilayah pesisir tidak bisa diselesaikan secara parsial atau saling menggantungkan harapan antar-pihak.

Menurutnya, kehadiran program advokasi PHE ONWJ bersama KKPMP telah membuka ruang konkret untuk mengurai kerentanan ekologis dan sosial yang sudah lama membayangi kawasan pesisir Subang utara.

“Kesadaran individu ini harus digiring menjadi kesadaran kolektif, menjadi kesadaran bersama. Karena kalau tidak ada upaya dari kita sendiri, saya kira ini susah untuk terus berlanjut,” tegas Teguh Aljabar.

Lebih jauh, ia menekankan agar Yayasan KKPMP terus memosisikan diri sebagai inkubator jaringan yang mempertemukan berbagai sektor setelah masa pendampingan formal purna.

“Harus ada ruang kolaborasi dari berbagai unsur: pemerintah, swasta, dan kita juga tidak menafikan pentingnya kehadiran akademisi secara riset di wilayah kita. Kita ikat melalui ruang kolaborasi ini menjadi inkubator jaringan. Sehingga ada multiplier effect dan kemandirian yang terbangun,” pungkasnya.

 

DITULIS OLEH

Cecep M Yusup

Artikel penulis

Buletin Redaksi ClueToday

Dapatkan rangkuman analisis mingguan, kabar daerah, dan perspektif mendalam langsung di kotak masuk Anda.

Tanggapan pembaca

Alamat email Anda tidak dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.