SUBANG, CLUETODAY.ID–Sebuah pensil mungkin terlihat sederhana bagi banyak orang, namun bagi seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), ketiadaan benda kecil itu menjadi awal dari sebuah tragedi yang memilukan hingga merenggut nyawa.
Luka kolektif bangsa inilah yang menggerakkan hati Adityarini Napitupulu untuk memastikan tidak ada anak di Subang yang harus putus asa hanya karena urusan alat tulis.
Kader dan juga pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang ini menggelar aksi kemanusiaan dengan membagikan tas sekolah, alat tulis, hingga susu kepada puluhan anak sekolah di Subang, Jumat (06/03/26).
Bagi Adityarini, aksi ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan respons atas realitas pahit yang masih membayangi dunia pendidikan Indonesia.
Ia menegaskan bahwa fasilitas dasar sekolah tidak boleh menjadi tembok penghalang bagi mimpi anak-anak bangsa.
“Hal sederhana seperti pensil, buku, atau tas sekolah tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan,” ujar Adityarini dengan nada penuh penekanan.
Pesan ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa di balik megahnya gedung-gedung sekolah, masih ada anak-anak yang berjuang melawan kemiskinan hanya untuk sekadar memiliki alat tulis yang layak.
Kegiatan yang berlangsung hangat ini juga dibarengi dengan buka puasa bersama yang dihadiri sekitar 200 kader, simpatisan, hingga pengurus PAC dan koordinator desa.
Menariknya, pemandangan ini menjadi bukti nyata indahnya toleransi di Kabupaten Subang.
Adityarini, yang merupakan satu-satunya pengurus DPC PDI Perjuangan Subang beragama Kristen, tampak begitu akrab dan lebur dalam suasana Ramadan yang religius.
Ia tidak hanya berbagi alat tulis, tetapi juga membagikan hampers Lebaran sebagai bentuk cinta dan semangat gotong royong menjelang hari raya.
Suasana kekeluargaan begitu kental terasa saat anak-anak penerima santunan memeluk tas baru mereka dengan senyum mengembang.
Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar benda fisik, melainkan pesan bahwa masih ada orang yang peduli pada masa depan mereka.
Melalui momentum Ramadan ini, Adityarini ingin memastikan bahwa di Kabupaten Subang, tidak akan ada cerita anak yang kehilangan semangat belajar hanya karena tidak mampu membeli sebatang pensil.








