Kantong Uang Subang

Picture of Redaksi

Redaksi

Pusat Kota Subang

Catatan Lukman Enha
____

DALAM diskusi ringan saya sering menyampaikan beberapa logika sederhana tentang Subang. Logika ini juga ada di setiap kepala Anda.

Subang hanya dua jam dari ibu kota Jakarta, dua jam dari ibu kota provinsi. Subang dibelah jalan tol. Punya dua gerbang tol. Akan ditambah lagi gerbang tol ke Pelabuhan Patimban. Maka seharusnya Subang ramai dikunjungi pendatang.

Tol ke Patimban sepanjang 34 Km dibangun elevated. Akan jadi tol dengan pemandangan indah. Melayang di atas kuningnya sawah, kalau padinya sudah menguning.

Dengan akses yang mudah itu, tentu siapapun yang dari Jakarta dan Bandung akan mudah ke Subang. Sangat mungkin tinggal di Subang, beli rumah di Subang, kerja di Jakarta. Hanya 2 jam perjalanan. Tol Cipali jarang macet apalagi tol MBZ menuju Jakarta.

Tapi, belum melihat ada apartemen di Subang. Karawang sudah punya. Hotel juga masih jarang. Hanya ada satu hotel yang punya hall lumayan besar. Di Subang kota baru ada 6 hotel bintang 2+ dan 3. Sementara hotel melati hidup tertatih-tatih.

Tapi yang unik, sudah banyak coffee shop. Rumah makan khas Sunda juga sudah lumayan banyak. Rumah makan cepat saji berderet. Gedung serba guna baru ada satu. fasilitas olahraga lumayan banyak. Ada lapang futsal, badminton, padel, tenis lapangan hingga kolam renang.

Subang memang belum punya gedung pertunjukan. Tapi untungnya sudah ada gedung creative center. Tempat anak-anak muda berkreasi. Program peninggalan Ridwan Kamil.

Di sana rutin gelar pertunjukan teater, puisi, film pendek dan yang terbaru sudah dibuka acting class.

Tapi, ini yang hebat dari Subang: Lapang alun-alunnya jadi yang terluas di Jabar. Mungkin bisa untuk empat lapangan sepak bola. Sudah tertata rapih.

Di era kolonial Belanda, ini lapangan golf. Tidak sembarangan warga pribumi bisa masuk. Sangat bersih dan indah.

Kini sudah dilengkapi ampi-teater terbuka. Tepat di bawah pelukan patung Pancasila. Saya belum tahu persis, apakah ampi-teater itu sudah sesuai standar. Sehingga pantulan suaranya benar-benar tidak ‘lari’ ke luar.

Jika sudah ideal, untuk acara tertentu, tidak perlu pakai sound system.

Tapi yang pasti, itulah tempat terbuka yang digemari anak muda. Setiap akhir bulan digelar Subang Fest. Tempat berkreasi dan bergembira.

Ada teori bahwa jika kreativitas anak muda tersalurkan, akan menjauhi kegiatan negatif. Jauh dari narkoba dan tawuran.

Untung Subang punya bupati anak muda. Pasti mengerti hal itu. Subang Fest jadi ruang kreasi dan hiburan gratis. Yang nonton pasti bawa uang buat jajan. Ekonomi hidup.

Kini Kota Subang jadi lebih hidup dan meriah. Suasananya, vibes kotanya, terasa.

Subang juga punya arena olahraga yang luas. Disebut Lapang Bintang. Dulunya ada kompleks militer di area tersebut, identik dengan bintang militer. Berada di sebelah timur-selatan kompleks Pemda Subang.

Ada joging track warna-warni, lapang bola, gor olahraga bisa untuk voli atau basket dan lapang tenis lapangan indoor.

Saat Subang jadi tuan rumah Porprov 2022 lalu, dibangun lapang bola pasir dan arena latihan Petanque. Olahraga asal Prancis. Tak jauh dari Lapang Bintang ada markas dan Stadion Persikas.

Dengan segala lanskap kota Subang seperti itu, apakah sudah cukup menarik orang untuk datang ke Subang?

Coba kita lihat data. Pertumbuhan ekonomi Subang rata-rata di atas 5 persen. Ini sudah cukup bagus, tapi kalau ingin lebih kencang ya harus di atas 8 persen. Seperti Prabowo yang ngotot ingin Indonesia tumbuh di atas 8 persen.

Maka kita perlu membuat uang datang ke Subang. Belanja, kerja, kulineran, berwisata dan menginap.

Saya belum tahu, apakah Subang Fest sudah menggerakan orang luar datang ke Subang? Yang pasti, para bintang tamu acara menginap di Subang.

Tapi rupanya menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Subang, banyak pendatang yang menginap di Subang di akhir pekan. Pagi harinya jalan-jalan ke Lembur Pakuan . Wisata lembur yang dibangun sendiri oleh Gubernur KDM. Mungkin nanti akan dibuat mirip Desa Panglipuran di Bali.

Pedagang oleh-oleh di sekitar Lembur Pakuan kembali gembira. Sudah lama lesu, sejak ada tol Cipali. Juga kini muncul tukang ojek dadakan. Mengantar wisatawan dari pemberhentian bus ke spot wisata.

Perlahan tapi pasti, pendapatan asli daerah (PAD) Subang juga merangkak naik. Tahun 2020 masih di sekitar Rp 461 miliar. Tapi di tahun 2025 melonjak jadi Rp 959 miliar. Tahun 2026 ditarget meningkat lebih dari Rp 1 triliun.

Dari mana sumber terbesar PAD? Ya tentu dari pajak PBB. Pajak restoran menempati urutan selanjutnya, disusul pajak hotel dan pajak hiburan. Anda bisa buka sendiri datanya.

Jika Subang ingin bertumbuh lebih pesat, harus banyak dibuat kantong uang. Destinasi wisatanya, kulinernya, penginapannya, aktivitas hiburannya harus didorong lebih maju.

Gubernur KDM sudah mencontohkan. Ketika lembur dan sawah ditata, orang berdatangan dari mana-mana.

Pengunjung datang bawa uang. Mereka menginap, makan, jajan dan ngopi. Pulangnya beli tahu, duren, tape, nanas, dan apa saja untuk oleh-oleh.

Belum bisa seperti KDM, saya baru bisa di level menyarankan ke pengusaha untuk buka usaha di Subang.

“Buka usaha apa bagusnya di Subang?” kata pengusaha itu. Ia sudah punya banyak usaha di Bandung.

“Hotel masih sedikit, bengkel motor atau mobil yang super lengkap belum ada, mall juga belum ada, lapang padel baru ada satu,” saya jawab apa yang diingat.

“Wah masih banyak peluang ya. Nanti kapan-kapan saya ke Subang,” katanya lagi.

“Sering ke Subang kang?” kata saya.

“Saya punya lahan,” timpalnya.

“Oh….” saya pun diam.

Tidak perlu nanya lagi luas dan di mana lokasinya. Bingung kalau ditanya balik.

Kalau belum ada mall, lalu mungkinkah orang datang ke Subang untuk belanja? Mungkin saja, bisa belanja kriya. Kerajinan khas Subang. Tapi sekarang tidak harus datang, pesan online juga bisa. Yang penting uangnya masuk Subang.

Saya sih setuju kalau Pujasera ditata seperti Teras Malioboro. Ide itu pernah disampaikan Bupati Reynaldy. Tinggal ganti nama saja jadi Teras Pujasera atau nama lain.

Meniru yang baik itu baik. Itu pun kalau memang bikin mall lebih ribet. Siapa tahu anak muda sekarang lebih senang yang “unik”. Sudah bosan dengan konsep mall. Toh beberapa mall di Jakarta juga tutup.

Nanti Teras Pujasera isinya apa saja? Ya tiru aja Teras Malioboro. Di-modif juga bisa. Misal ada pentas seni budaya Subang setiap bulan di area Teras Pujasera.

Orang juga bisa datang untuk nonton. Sekarang sudah diawali dengan gelaran Subang Fest. Nanti bisa dikembangkan menjadi festival dan parade budaya.

Belajar dari Banyuwangi

Tidak apa-apa meniru Banyuwangi. Yang awalnya dijuluki kota santet, oleh Bupati Azwar Annas diubah jadi kota festival. Disematkan segala julukan positif: Daerah Seribu Destinasi, Bumi Blambangan, The Sunrise of Java hingga julukan Kota Osing.

Julukan yang terakhir dimaksudkan agar anak muda Banyuwangi mengingat lagi suku Osing. Suku asli Banyuwangi.

Festival dan parade budaya di Banyuwangi populer hingga mancanegara. Turis datang dari berbagai negara. Coba Anda buka Youtube, Festival Tari Gandrung Banyuwangi. Digelar megah dan meriah di pantai.

Banyuwangi jadi sangat populer. Hotel penuh, pedagang laris, uang datang dan berputar. Industri kreatif berkembang. Masyarakat punya uang dari segala aktivitas.

Imbasnya Banyuwangi sangat pupuler dan viral. Segala rapat-rapat pemerintah pusat, BUMN, swasta banyak digelar di Banyuwangi. Bantuan keuangan dan dana CSR pun mengalir deras.

Azwar Annas berhasil menciptakan kantong uang di Banyuwangi. Itu tidak sebentar, butuh 10 tahun. Dari tahun 2010-2021. Semua itu diceritakan dalam buku yang ditulis sendiri oleh Azwar Annas. Saya nyari bukunya lumayan susah.

PAD Banyuwangi tahun 2010 hanya Rp 87 M. Di ujung pemerintahan Annas tahun 2021, PAD-nya lebih dari Rp500 miliar. Hampir setara dengan isi brangkas Febri.

Kantong uang di Subang bisa diciptakan lebih banyak. Kita punya gunung, laut dan dataran yang luas. Lengkap.

Coba cek isi kantong Anda.(*)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top