MAJALENGKA, CLUETODAY.ID — Ikatan Pemuda Penggerak Desa (IPDA) berkolaborasi dengan pemuda dan ibu rumah tangga di Blok Selasa, Desa Lame, menggelar kegiatan menjaga iklim melalui penanaman pohon, Minggu (01/11/26).
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi ekonomi desa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya IPDA mengajak masyarakat terlibat dalam menjaga lingkungan sekaligus mengoptimalkan potensi lokal.
Sejumlah inisiatif pemberdayaan masyarakat turut diperkenalkan, mulai dari budidaya tanaman pangan hingga pengembangan ekonomi berbasis potensi desa.
Ketua Pelaksana, Fathur, mengatakan bahwa menjaga iklim tidak cukup hanya dilakukan melalui penanaman pohon. Menurutnya, upaya tersebut juga perlu disertai dengan menjaga potensi desa dan membangun iklim sosial yang produktif melalui keterlibatan pemuda.
“Bagi kami menjaga iklim bukan hanya sekadar menanam pohon, melainkan mendalami potensi desa yang digerakkan oleh pemuda. Itu merupakan iklim yang perlu dijaga dalam bermasyarakat,” ujar Fathur.
Ia menjelaskan, Desa Lame memiliki peluang untuk menjadi percontohan produktivitas pemuda dalam menggali dan merawat potensi yang dimiliki desa. Melalui kegiatan tersebut, IPDA ingin menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kemandirian ekonomi dan kontribusi terhadap ketahanan pangan.
Salah satu langkah yang didorong adalah pemanfaatan pekarangan rumah untuk budidaya tanaman, termasuk tanaman herbal dan cabai. Dengan demikian, masyarakat dapat memenuhi sebagian kebutuhan konsumsi secara mandiri tanpa harus selalu membeli.
“Semoga ke depan pertumbuhannya semakin besar dan bisa diekspansikan ke pasar yang lebih luas,” kata Fathur.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Majalengka, Gus Hishnu Basyaiban.
Ia menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap gerakan IPDA yang melibatkan pemuda dalam pemberdayaan masyarakat desa.
Menurutnya, pemuda harus hadir sebagai motor penggerak dan agen perubahan di tengah masyarakat. Ia juga menilai Desa Lame memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi ruang pengabdian sekaligus percontohan gerakan pemberdayaan pemuda.
Gus Hishnu menyoroti sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, salah satunya penguatan ketahanan pangan lokal. Pemanfaatan pekarangan dan sudut rumah warga untuk budidaya jamur, cabai, kacang panjang, hingga inovasi budidaya lele menggunakan galon dinilai sebagai langkah konkret menuju kemandirian pangan.
“IPDA dapat mengambil peran dalam mendampingi masyarakat, memperkenalkan metode budidaya yang lebih modern, serta membantu pengembangan pemasaran dan pengemasan produk,” katanya.
Selain sektor pangan, Gus Hishnu juga menyoroti potensi industri kerajinan rotan di Desa Lame yang telah menembus pasar internasional. Menurutnya, potensi tersebut merupakan aset ekonomi desa yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Ia mendorong IPDA ikut berperan dalam menjaga rantai produksi, mendorong regenerasi pengrajin muda, serta mengembangkan inovasi desain agar produk kerajinan rotan Desa Lame semakin berdaya saing.
“Jadikan Desa Lame ini sebagai laboratorium pemuda tempat belajar, berinovasi, dan memberdayakan warga. Jangan pernah lelah bergerak demi kemajuan desa dan kesejahteraan masyarakat kita,” pesannya.




