SUBANG, CLUETODAY.ID – Ekonomi Kabupaten Subang diprediksi akan mengalami transformasi besar seiring dengan disepakati rencana pembangunan Simpang Susun (Interchange) KM 115+500 di Ruas Tol Cikopo–Palimanan (Cipali). Proyek strategis yang titik lokasinya berada tak jauh dari pabrik mobil Vinfast di Cibogo Subang.
Kepastian pembangunan ini ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, PT Lintas Marga Sedaya (Astra Tol Cipali), dan PT VinFast Automobile Indonesia di Ruang Rapat Bupati Subang, Rabu (14/01/26).
Pembangunan simpang susun ini jadi langkah taktis untuk mempercepat pertumbuhan kawasan industri, terutama sektor kendaraan listrik (EV) yang kini menjadi primadona investasi. Dengan adanya akses langsung di KM 115, distribusi logistik dari pabrik-pabrik manufaktur besar, termasuk VinFast, dinilai akan jauh lebih efisien.
Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita Budi Raemi (Kang Rey), menegaskan bahwa efisiensi adalah kunci utama dalam menarik investor global ke Subang.
“Saat ini persaingan daerah bukan lagi soal siapa yang punya lahan luas, tapi siapa yang punya konektivitas cepat dan efisien. Simpang susun ini akan memperkuat posisi Subang dalam peta industri strategis Jawa Barat, khususnya untuk sektor kendaraan listrik dan manufaktur berorientasi ekspor,” ujar Kang Rey.
Dampak ekonomi langsung yang diharapkan dari proyek ini akan menekan biaya logistik. Hal ini karena bakal memangkas waktu tempuh distribusi barang menuju pelabuhan atau pasar nasional. Sehingga produk dari Subang lebih kompetitif di pasar internasional.
Selain itu, Subang yang menjadi pintu gerbang pertumbuhan Kawasan Rebana, melalui simpang susun ini mempercepat integrasi Subang dalam kawasan Metropolitan Rebana sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat.
Ekosistem Industri Hijau yang menjadi tema industri di Subang, semakin menambah daya tarik untuk lebih banyak vendor dan industri pendukung kendaraan listrik untuk masuk ke Subang, menciptakan klaster industri teknologi tinggi.
Reynaldy menyebut, pembangunan infrastruktur megah ini menggunakan skema kolaborasi yang tidak membebani anggaran daerah. Tanggung jawab pembiayaan berada pada pihak ketiga, sementara manfaat jangka panjangnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat Subang melalui pembukaan lapangan kerja baru.
“Ini contoh kolaborasi ideal antara pemerintah dan dunia usaha. Infrastruktur dibangun, investasi bergerak, lapangan kerja terbuka, dan masyarakat Subang yang menerima manfaat jangka panjang,” tambah Kang Rey.











