Bekali Mahasiswa STIESA, Forum HR Subang Beberkan 4 Spek Talenta Incaran Industri

Picture of Cecep M yusup

Cecep M yusup

20260604 162339

SUBANG, CLUETODAY.ID — Gelombang industrialisasi yang tengah melanda Kabupaten Subang membawa peluang sekaligus tantangan bagi talenta lokal.

Guna merespons kesenjangan kompetensi yang masih terjadi, ratusan mahasiswa jurusan Manajemen STIESA mengikuti Future Skils for Future Industry in Subang, yang digelar di Graha Sofia, Kamis (04/06/26).

Hadir sebagai narasumber, Asep Gunawan, HGC Manager PT UJump Indonesia sekaligus Ketua Forum HR Subang.

Dalam acara ini, Asep secara tegas menyoroti competency gap (kesenjangan kompetensi) yang menjadi akar tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di tengah banyaknya pabrik baru

Krisis “Soft Skill” di Kalangan Lulusan Baru

Asep mengungkapkan fakta mengejutkan berdasarkan survei yang dilakukan kepada para HRD di Kabupaten Subang.

Saat ini, tingkat kesiapan kerja lulusan perguruan tinggi sangat rendah, di mana hanya 27% “fresh graduate” yang dinilai siap pakai, sementara 73% sisanya masih membutuhkan pendidikan dan pelatihan lanjutan.

“Forum HR Subang banyak menemukan talenta yang belum siap masuk ke dunia industri. Tidak hanya masalah kompetensi teknis, tapi kompetensi non-teknis terutama masalah soft skill,” ujar Asep.

Ia membeberkan keluhan riil dari para HRD yang kerap mendapati karyawan baru menghilang hanya dalam waktu seminggu, atau mudah mengeluh bahwa pekerjaan yang diberikan terlalu berat dan tidak sesuai dengan “passion”.

Menurut Asep, lulusan baru, khususnya dari Generasi Z, sering kali dinilai memiliki resiliensi (daya juang) yang lemah dan mudah terkena “culture shock” saat beralih dari lingkungan kampus ke dunia kerja yang penuh tekanan.

Oleh karena itu, HRD masa kini tidak memfokuskan pencarian pada kandidat yang sekadar pintar secara akademis (IPK tinggi), melainkan yang memiliki karakter siap kerja.

4 Kompetensi Utama Incaran Industri

Di hadapan para mahasiswa Manajemen STIESA, Asep merinci empat skil krusial yang paling dicari perusahaan saat ini:

1. Etos Kerja dan Disiplin (70%): Industri, terutama penanaman modal asing, sangat membenci budaya “jam karet”. Datang tepat waktu berarti sudah bersiap 5 menit sebelum jadwal.

2. Kemampuan Komunikasi dan Public Speaking: Kesuksesan saat interview 70% ditentukan oleh kelihaian kandidat dalam mempresentasikan dirinya. Keterampilan ini menurutnya tidak bisa digantikan oleh Artificial Intelligence (AI).

3. Sertifikasi Kompetensi Praktis (51,4%): Memiliki sertifikasi, terutama di bidang Manajemen SDM (HRD), akan secara drastis meningkatkan daya tawar fresh graduate dibanding mereka yang hanya bermodal ijazah dan belum berpengalaman.

4. Kerja Sama Tim dan Networking: Mahasiswa dituntut untuk memperluas jejaring pergaulan yang positif sejak di bangku kuliah, karena kolaborasi sangat esensial di lingkungan hierarki industri.

Global Mindset, Local Action

Subang kini telah menjelma menjadi episentrum industri global dengan hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Patimban dan Smartpolitan, yang sukses menarik raksasa manufaktur seperti BYD dan VinFast.

Namun, ada kekhawatiran besar warga lokal tersingkir dari posisi strategis jika tidak segera melakukan upgrade diri. Saat ini, 82% posisi strategis di perusahaan mobil listrik di Subang masih diisi oleh SDM dari luar daerah.

Asep menantang para mahasiswa untuk tidak sekadar menjual status “putra daerah” tanpa diimbangi kompetensi yang mumpuni. “Masa kita tidak menjadi bagian dari industrialisasi. Agak ironis orang lain datang ke sini gajinya lumayan, tapi kita sendiri hanya jadi penonton,” tegasnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk mengadopsi prinsip Global Mindset, Local Action. Selain memperkuat kemampuan digital menggunakan Excel dan adaptasi tools AI seperti ChatGPT, mahasiswa juga dituntut untuk mulai menguasai bahasa Inggris dan Mandarin.

Selain itu, Asep menyoroti pentingnya personal branding melalui platform LinkedIn untuk menarik perhatian perekrut sejak mahasiswa masih berada di kampus.

Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, mahasiswa manajemen menggali lebih dalam soal kesiapan menjadi praktisi HR (Human Resource) masa depan.

Asep memaparkan bahwa untuk menjadi HRD yang unggul, lulusan manajemen harus memperkuat listening skill (kemampuan mendengar aktif), menjunjung tinggi integritas untuk menghindari pungutan liar (pungli) rekrutmen, serta selalu berpegang teguh pada aturan ketenagakerjaan.

“Ketika kita berhadapan dengan ekspatriat, kita tidak boleh merasa inferior (rendah diri). Mereka akan menaruh respect yang tinggi jika kita menguasai bahasa mereka,” tambahnya.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top