Jejak Heru, dari Loper Koran jadi Penggerak Pendidikan

Picture of Cecep M yusup

Cecep M yusup

20260721 160242~2

SUBANG, CLUETODAY.ID – – Aspal dingin kawasan Cikapundung, Kota Bandung, di awal dekade 1990-an mencatat betul jejak langkah Suhaerudin.

Selepas gema azan subuh, Heru muda sudah bergegas menembus dingin. Di sana, di antara tumpukan media cetak yang baru turun dari armada distribusi, ia merajut mimpi.

Dari persimpangan jalan, lorong-lorong kampus, hingga pintu rumah warga, tumpukan koran dijajakannya demi menyambung hidup dan membiayai kuliah.

Jauh sebelum dikenal sebagai Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Subang dan aktivis advokasi pendidikan swasta di Jawa Barat, pria bernama lengkap Suhaerudin (54) jadi potret anak daerah yang harus bertarung keras.

Lahir dari keluarga pedagang sapi bersahaja di Pegaden Barat, Subang, sewaktu ia lulus dari Sekolah Dasar (SD), Heru sempat tidak bisa melanjutkan sekolah.

Namun, semangatnya tak diam-diam padam. Heru mendaftarkan dirinya sendiri ke SMP Pagaden.

Berbekal sepeda tua pemberian orang tuanya, setiap hari ia mengayuh pedal membelah pematang sawah sejauh 20 kilometer dari rumahnya di kawasan Gambarsari menuju sekolah.

“Bagi anak-anak zaman sekarang, cerita itu mungkin terdengar sangat prihatin. Tapi bagi kami saat itu, hal itu biasa saja, semua orang melakoni perjuangannya masing-masing,” kenang Heru tersenyum.

Keteguhan hati dan kerja keras membawanya berhasil menembus IAIN (kini UIN) Sunan Gunung Djati Bandung pada tahun 1992 melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).

Namun, cobaan hidup kembali menguji saat ia memasuki tahun kedua perkuliahan. Roda ekonomi keluarganya berputar ke bawah, dan kiriman uang dari kampung terhenti.

Keinginan untuk tidak pulang membawa kegagalan. Dirinya khawatir akan melahirkan stigma buruk serta mematahkan motivasi anak-anak miskin di kampungnya untuk bersekolah.

Sehingga, mendorongnya memutar otak. Heru memutuskan menjadi loper koran. “Harus milih, mau kuliah atau nyari uang. Kalau lemah di kuliah saya enggak membawa uang, kalau dagang koran saya enggak bisa kuliah, sering kesiangan. Antara bertahan hidup atau meneruskan cita-cita,” ujar Suhaerudin.

Ia mengumpulkan 40 pelanggan bulanan, menjajakan koran harian, hingga berjualan buku-buku kuliah bekas di sekitar kampus. Kerap kali, kelelahan fisik memaksanya absen dari bangku kuliah pagi.

Pertarungan batin antara mengisi perut dan menuntaskan cita-cita itu akhirnya membuat Heru membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk meraih gelar sarjana.

Kerasnya tempaan jalanan tak membuat kelembutan hati Heru mengeras. Pengalamannya berjuang dari bawah justru menumbuhkan empati yang mendalam terhadap dunia pendidikan. Pengabdiannya di SMA Muhammadiyah Subang dimulai sejak 1998.

Pada tahun 2012, dedikasi dan komitmen moralnya diuji lewat sebuah pilihan pelik. Saat ditunjuk untuk membenahi manajemen sekolah Muhammadiyah, di saat yang bersamaan ia dinyatakan lulus seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kementerian Agama.

Di tengah godaan untuk mengamankan masa depan finansial pribadi lewat status PNS, Heru justru mengambil keputusan yang tak lazim: menolak status PNS demi tetap merawat sekolah swasta yang kembang kempis.

Keputusan yang sempat memicu ketegangan dengan keluarga dan cibiran teman-temannya yang menyebutnya “orang gila”.

“Saya berpikir sederhana. Kalau saya mengambil status PNS, fokus saya akan terbagi dan pengembangan sekolah akan terganggu. Jangankan untuk pengembangan, untuk pelayanan dasar siswa saja pasti kesulitan kalau kepala sekolahnya tidak ada di tempat,” tegas Heru.

Kepemimpinannya tidak sekadar teori manajemen. Cintanya pada sekolah dibuktikannya hingga ke hal-hal teknis terkecil. Ketika sekolah kekurangan kursi dan meja belajar untuk siswa.

Heru tak segan pulang sekolah menggergaji, memaku, dan mendaur ulang (kanibal) kayu-kayu bekas menjadi meja kursi yang layak pakai.

“Saya sayang sekolah ini. Saya ingin membuktikan bahwa bukan karena nama lembaga yang tidak laku, melainkan manajemennya yang harus dibenahi,” ucapnya dengan mata berbinar.

Kini, panggung perjuangan Heru telah meluas. Ketimpangan kebijakan pendidikan yang kerap dianggap “menganaktirikan” sekolah swasta mendorongnya aktif bergerak di Forum Kepala Sekolah Swasta (FKSS) Jawa Barat. Ia mengadvokasi nasib sekitar 1.300 sekolah swasta.

Di tengah riuh persoalan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang kerap merugikan kuota sekolah swasta, Heru memilih pendekatan lobi yang strategis dan elegan.

Jalan panjang yang ditempuh Suhaerudin memberikan keteladanan. Sederhana, jadi nilai khas persyarikatan yang dihidupinya.

“Balik lengoh nombokan. Kita ini dipimpin tidak untuk mencari gaji, melainkan untuk melahirkan karya bagi sesama,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top