Saham Bank Besar Rontok, BBCA Sentuh Level Terendah dan Dana Rp3 Triliun Berputar di Pasar

Picture of Redaksi

Redaksi

JAKARTA, CLUETODAY.ID — Aksi jual massal menghantam saham-saham perbankan pada perdagangan Senin (8/6), menyeret sejumlah emiten keuangan ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah tekanan tersebut, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu yang paling terdampak setelah sempat menyentuh level Rp4.800 per saham sebelum ditutup di posisi Rp4.870.

BBCA mengakhiri perdagangan dengan penurunan 4,04 persen atau turun 205 poin. Pelemahan ini dipicu sentimen makroekonomi, terutama tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian pelaku pasar.

Meski harga saham terkoreksi tajam, aktivitas perdagangan BBCA justru meningkat signifikan. Kondisi ini menunjukkan adanya minat beli dari investor yang memanfaatkan penurunan harga untuk mengoleksi saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.

Berdasarkan data RTI Business, volume perdagangan BBCA mencapai 612,4 juta lembar saham dengan nilai transaksi menembus Rp3 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 106.567 kali, menegaskan tingginya likuiditas saham tersebut meski pasar sedang berada dalam tekanan.

Namun, tekanan jual masih terlihat dari posisi antrean transaksi menjelang penutupan pasar. Pada harga Rp4.870 terdapat antrean beli sebanyak 8.047 lot, sementara antrean jual di harga Rp4.880 mencapai 35.190 lot. Ketimpangan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih cenderung berhati-hati terhadap sektor perbankan dalam jangka pendek.

Di tengah pelemahan tersebut, sejumlah analis menilai koreksi yang terjadi lebih dipengaruhi faktor eksternal dan teknikal dibandingkan kondisi fundamental perusahaan.

“Turunnya harga saham BBCA ke Rp 4.800 bukan karena fundamentalnya yang rusak. Ini murni karena pengaruh sentimen pasar dan adanya tekanan dari keluarnya modal asing (capital outflow),” kata Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Senin.

Menurut Elandry, koreksi tajam membuat valuasi BBCA menjadi lebih menarik bagi investor jangka panjang yang mencari peluang akumulasi di saham berfundamental kuat.

Meski demikian, ia mengingatkan investor tetap mewaspadai pergerakan jangka pendek yang masih berpotensi fluktuatif selama arus dana asing belum kembali masuk secara konsisten ke pasar saham domestik.

Tekanan juga melanda saham-saham bank BUMN. Sejumlah emiten perbankan berkapitalisasi besar mencatatkan penurunan signifikan dan mendekati level terendah dalam lima tahun terakhir.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ditutup melemah 5,30 persen ke level Rp3.040 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 4,74 persen ke posisi Rp2.610, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 3,12 persen menjadi Rp3.720 per saham.

Pelemahan serentak sektor perbankan menunjukkan masih kuatnya tekanan sentimen global terhadap pasar keuangan domestik. Namun di sisi lain, koreksi harga yang dalam dinilai membuka peluang bagi investor yang memburu saham-saham perbankan berkualitas dengan valuasi yang lebih murah dibandingkan sebelumnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top