SUBANG, CLUETODAY.ID — Seniman dangdut sekaligus Juara 1 D’Koplo Indosiar, Novia Rozma, berbagi kisah inspiratifnya dalam menembus batas-batas norma dan stigma negatif masyarakat terhadap penyanyi dangdut perempuan.
Hal tersebut ia sampaikan dalam acara diskusi bertajuk “Merayakan Kesetaraan Gender dari Panggung Dangdut” yang digelar oleh Pikiran Lelaki dan Jong Subang di Abbey Coffe, pada Jumat (06/06/26) malam.
Menjadi seorang penyanyi dangdut sekaligus single parent, Novia menceritakan betapa beratnya tekanan dan pandangan miring yang ia hadapi di awal kariernya. Masyarakat kerap memberikan label negatif kepada perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut, terlebih karena jam kerja yang sering mengharuskannya pulang larut malam hingga dini hari.
Tantangan yang ia hadapi tidak hanya gunjingan tetangga, tetapi juga tekanan ekonomi, di mana ia pernah hanya dibayar Rp150.000 sehari untuk bernyanyi di tengah perjuangannya menghidupi dan membeli susu sang anak setelah bercerai.
Di atas panggung, tantangannya pun tak kalah berat. Novia harus sering menghadapi penonton yang mabuk, tindakan premanisme, hingga perlakuan kurang sopan dari penonton yang berniat menyawer. Kekhawatiran akan stigma buruk dan lingkungan panggung yang tidak aman ini bahkan sempat membuat pihak keluarganya kurang menyetujui keputusannya terjun ke dunia dangdut.
Namun, rentetan kesulitan itu justru menjadi bahan bakar bagi Novia untuk bangkit. “Kalau aku tidak berpikiran untuk kuat demi masa depan anak aku, kayaknya aku akan tertinggal,” ungkap Novia yang bertekad menjadikan hobinya sebagai sumber keberhasilan.
Ia berambisi untuk merubah stigma bahwa penyanyi dangdut hanya menjual keseksian dan goyangan tanpa mementingkan kualitas. Pembuktian terbesarnya terwujud ketika ia berhasil keluar sebagai Juara 1 dalam ajang kompetisi D’Koplo Indosiar pada tahun 2023. Lewat pencapaian tersebut, Novia membuktikan bahwa dirinya mampu “menjual” suara dan karya yang berkualitas.
Ia juga melakukan transformasi penampilan dengan memadukan unsur pakaian tradisional dan tren fesyen modern pada genre dangdut bajidor yang ditekuninya, untuk membuktikan bahwa penyanyi dangdut bisa tampil memukau tanpa harus berpakaian seronok.
Dalam acara diskusi ini, terungkap pula sebuah realitas sosial bahwa tubuh perempuan di atas panggung sering kali dijadikan sekadar objek visual dan sasaran penghakiman moral masyarakat, alih-alih dinilai dari kemampuan musikalitasnya.
Menghadapi realitas industri yang penuh bias gender ini, Novia menjadikan sosok R.A. Kartini sebagai inspirasinya. Ia meyakini bahwa perempuan tidak memiliki batasan dalam mengejar karier dan mampu membuktikan kemandiriannya tanpa harus diremehkan oleh pihak manapun.
Di penghujung acara, Novia memberikan pesan yang kuat bagi seluruh perempuan yang sedang berjuang berkarya di tengah budaya patriarki.
“Sebagai wanita, jangan patah semangat, terus percaya diri, bikin diri lebih berkualitas, tapi tetap pada jalurnya,” pungkasnya.











