JAKARTA, CLUETODAY.ID-Vladimir Putin angkat bicara terkait konflik yang kian memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia menyerukan agar pihak-pihak yang terlibat segera menghentikan pertempuran melalui gencatan senjata.
Sebagai sekutu dekat Iran, banyak pihak sebelumnya memperkirakan Rusia akan memberikan dukungan langsung terhadap Teheran untuk membalas serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu. Namun, Putin memilih mengambil posisi moderat dengan mendorong penghentian konflik secepatnya.
Dalam pernyataan resmi yang diunggah di akun Facebook Kementerian Luar Negeri Rusia pada 2 Maret 2026, disebutkan bahwa Putin melakukan pembicaraan via telepon dengan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Dalam percakapan tersebut, keduanya membahas meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk akibat aksi saling serang antara negara-negara yang terlibat. Mereka menilai, jika situasi terus memburuk, dampaknya bisa sangat berbahaya, baik dari sisi keamanan, ekonomi, maupun kemanusiaan.
Rusia dan Arab Saudi sepakat bahwa konflik harus diselesaikan melalui jalur politik dan diplomasi, bukan dengan memperluas operasi militer. MBS pun menilai Putin dapat memainkan peran penting sebagai penengah.
Selain dengan Arab Saudi, Putin juga melakukan komunikasi dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan serta Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani guna membahas eskalasi perang di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang sejumlah target di kawasan Teluk.
Serangan balasan tersebut berdampak pada negara-negara Arab, termasuk penutupan wilayah udara dan gangguan penerbangan di bandara utama seperti Dubai dan Abu Dhabi.
Dalam pembicaraan dengan Presiden UEA, Putin dan Mohamed bin Zayed sama-sama menegaskan pentingnya penghentian tembak-menembak serta kembalinya proses penyelesaian melalui jalur politik dan diplomasi.
Putin juga menyampaikan kesiapan Rusia untuk meneruskan kekhawatiran UEA kepada pemerintah Iran terkait serangan balasan tersebut, sekaligus membantu upaya meredakan ketegangan di kawasan.
Sementara itu, dalam percakapan dengan Emir Qatar, kedua pemimpin mengungkapkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan melibatkan negara-negara lain yang sebelumnya tidak terlibat langsung.
Risiko “perluasan konflik” tersebut dinilai sangat berbahaya karena berpotensi memicu perang regional yang lebih besar dan berdampak luas terhadap stabilitas keamanan serta perekonomian global.
Sejak menghadapi tekanan dan isolasi dari Barat akibat perang di Ukraina, Putin berupaya mempererat hubungan dengan negara-negara Timur Tengah.
Rusia memiliki hubungan erat dengan Iran, yang menjadi mitra penting Moskow dan memasok drone Shahed untuk operasi Rusia di Ukraina. Namun di sisi lain, Moskow juga menjaga relasi baik dengan negara-negara Teluk seperti UEA dan Qatar.
UEA sendiri diketahui berperan sebagai mediator dalam konflik Rusia-Ukraina, termasuk dalam memfasilitasi pertukaran tahanan dan pertemuan diplomatik.
Dengan jaringan hubungan yang luas di kawasan, Putin berupaya menampilkan Rusia sebagai pihak yang dapat membantu meredakan ketegangan.
Setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dikabarkan wafat, Putin turut menyampaikan belasungkawa dan mengenangnya sebagai tokoh penting bagi hubungan kedua negara.
“(Khamenei) akan dikenang sebagai negarawan luar biasa yang telah memberikan kontribusi pribadi yang sangat besar bagi pengembangan hubungan persahabatan Rusia-Iran,” ucapnya dikutip The Straits Times.(clue)











