Cegah Abrasi, PHE ONWJ dan Yayasan KKPMP Mayangan Tanam 1.000 Mangrove di Pantura Subang

Picture of Cecep M yusup

Cecep M yusup

img 20260731 wa0011

SUBANG, CLUETODAY.ID – Ancaman abrasi yang terus menggerus kawasan pesisir utara Kabupaten Subang membutuhkan langkah nyata yang menyatukan aksi lingkungan dan penerapan nilai keagamaan (eko-teologi).

Dalam peringatan Hari Mangrove Internasional, Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Mayangan, melakukan aksi penanaman 1.000 pohon mangrove di pesisir Pondok Bali, Kabupaten Subang, pada Kamis (30/07/26).

Inisiatif ini diusung oleh PHE ONWJ Jabar, berkolaborasi dengan PD Pemuda Persis Subang, Komunitas Mangrupiyah, dan Gusdurian Subang.

Kabid Lingkungan Hidup PP Pemuda PERSIS, Ade Rahmat, menyampaikan bahwa fokus bidangnya adalah menjaga ekosistem. “Di antara konsen bidang kami ialah terjaganya ekosistem lingkungan melalui implementasi eko-teologi yang serius, masif dan terukur,” kata Ade.

Semangat eko-teologi tersebut diturunkan secara langsung oleh Local Hero, Alvian Noor. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan program perlindungan pesisir sangat bergantung pada soliditas akar rumput dan kerja sama antarlembaga.

“Kesempatan ini alhamdulillah bisa terlaksana karena kolaborasi bersama OKP Pemuda PERSIS dan Gusdurian. Sebagai warga lokal, kolaborasi ini meringankan setiap program yang akan kita laksanakan, sekarang maupun ke depan,” kata Alvian.

Baginya, menjaga kelestarian alam bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari doktrin moral dan keagamaan.

“Alhamdulillah, terjalinnya kolaborasi ini menjadi langkah luar biasa untuk sama-sama menjadi penjaga semesta. Penanaman mangrove ini langkah besar untuk menyelamatkan tanah yang terus tergerus abrasi,” ujarnya.

Ia menekankan, dukungan dari pihak swasta dan organisasi kemasyarakatan merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan wilayah pesisir.

“Program Pertamina PHE ONWJ melalui KKPMPM ini, berkolaborasi dengan Pemuda PERSIS serta Gusdurian, menjadi modal besar ke depan untuk menjaga kelestarian alam dan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir utara,” tambahnya.

Selain penanaman 1.000 bibit mangrove, upaya mitigasi di Desa Mayangan juga telah diperkuat dengan pemasangan Alat Pemecah Ombak untuk menahan laju abrasi.

Di kawasan tersebut, keberadaan Masjid PJ PERSIS Al-Furqon yang berada di titik paling ujung turut dimaknai secara mendalam oleh warga.

Melalui pendekatan terpadu yang memadukan aksi fisik, mitigasi bencana, dan penguatan nilai eko-teologi, gerakan yang dimotori oleh Alvian Noor bersama jaringan komunitas ini diharapkan menjadi benteng pertahanan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir utara Subang.

“Bukan hanya menahan abrasi tanah, tapi juga abrasi akidah dan akhlak masyarakat pesisir,” tambahnya.

Penggerak Gusdurian Subang, Syarief Hidayat, menyebut inisiatif tersebut merupakan langkah strategis di tengah ancaman hilangnya pesisir Pantura Subang.

“Gusdurian mendukung pelestarian mangrove. Kami kolaborasi dengan teman-teman Local Hero dan Pemuda Persis Subang,” ucap Syarief.

Selain itu, tambah Syarief, GUSDURian sedang melakukan pembuatan media belajar bagi anak-anak sekolah untuk penguatan kepedulian pelestarian mangrove.

“Saat ini, kami sedang menyusun alat media belajar bersama guru-guru di empat desa Kecamatan Legonkulon. Nantinya, bisa digunakan di sekolah atau madrasah,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top