Di ruang dingin yang nyaris tanpa suara, kebenaran justru menemukan jalannya. Film Autopsy: Dead Body Can Talk hadir membawa sudut pandang berbeda tentang kematian bahwa tubuh manusia, bahkan setelah tak bernyawa, tetap menyimpan cerita yang bisa membuka tabir kejahatan.
Film ini resmi diluncurkan pada Sabtu (29/11/2025) di Gedung Bakti Dharma Waspada STIK Polri, Jakarta Selatan, sebelum kemudian diperkenalkan dalam momentum Hari Film Indonesia, 30 Maret 2026. Terbaru, penayangan film dijadwalkan pada 3 September 2026 mendatang.
Diproduksi oleh PT RINS Prime Entertainment bersama PT Karya Kreatif Utama, film ini mengusung genre thriller investigatif dengan pendekatan yang tidak biasa, menjadikan autopsi sebagai pusat narasi.
Di luar negeri, film investigasi seperti sudah banyak. Bahkan berseri-seri seperti halnya Criminal Minds. Namun kisah seperti ini masih menjadi hal baru di layar perfilman tanah air. Hal ini membuat kemunculan film ini banyak dinantikan untuk membawa atmosfir baru.
Tokoh Pemecah Misteri Pembunuhan Ibu dan Anak di Kasus Subang
Sosok utama dalam film ini diangkat dari kisah nyata Brigjen Pol Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, dokter forensik Polri yang dikenal luas dalam dunia penyidikan ilmiah. Nama Hastry bukan sekadar figur di balik meja autopsy, ia juga menjadi bagian penting dalam pengungkapan sejumlah kasus besar. Termasuk kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang yang sempat menyita perhatian publik.
Dalam film, karakter Hastry diperankan oleh Masayu Anastasia, didampingi Samuel Rizal, Ge Pamungkas, Rifnu Wakana, dan Ryuka Bunga. Kehadiran para aktor ini memperkuat atmosfer investigasi yang tidak hanya berbasis sains, tetapi juga menyentuh wilayah intuisi dan pengalaman personal.
Padukan Ilmu Kedokteran Forensik dan Naluri Pengalaman yang Terasah
Film ini menggambarkan bagaimana Hastry memadukan ilmu kedokteran forensik dengan naluri yang terasah dari pengalaman panjang menangani berbagai kasus kematian tidak wajar. Dari identifikasi luka hingga penarikan kesimpulan medis, setiap proses ditampilkan dengan pendekatan yang autentik, hasil dari riset mendalam serta pelatihan khusus bagi tim produksi.
“Autopsy adalah perjalanan menembus batas antara hidup dan mati, di mana tubuh menjadi saksi terakhir dari kebenaran yang tak bisa dikubur,” kata Sutradara film ini, Ozan Ruz melalui keterangan tertulis, Rabu, 1 April 2026.
Tak berhenti pada sisi ilmiah, film ini juga menyisipkan pengalaman supranatural yang disebut menjadi bagian dari perjalanan Hastry. Perspektif ini disajikan dari sudut pandang langsung sang dokter forensic bagaimana ia melihat, memahami, dan menyikapi setiap kasus yang ditanganinya.
Tokoh Alami Pengalaman Mistis
Dalam filmnya, Hastry kerap mengalami pengalaman supranatural, seolah jasad atau korban ingin memberitahukan kebenaran. Baik melalui mimpi atau pengalaman horor yang mencekam. Ia berdiri ditengah rasionalisasi dan pengalaman horor yang seringkali dianggap fiktif.
Pembuktiah Ilmiah dari Tindak Pidana
Direktur PT RINS Prime Entertainment, Rina Laurentie Sindunata, menyebut film ini dibuat bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga memberi pemahaman kepada publik tentang pentingnya autopsi dalam pembuktian ilmiah sebuah tindak pidana.
Bagi Hastry sendiri, perjalanan hidupnya yang diangkat ke layar lebar menjadi sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Pertama kali diberitahu Mbak Rina, saya kaget dan nggak percaya. Saya sering dipanggil podcast, tapi tidak pernah terpikirkan untuk difilmkan,” ujarnya.
Ia juga mengisahkan bagaimana awal kariernya sebagai dokter forensik sempat dipandang tak lazim.
“Waktu itu belum ada dokter polisi wanita yang menjadi dokter forensik. Saya dianggap cewek aneh,” tuturnya sambil tersenyum.
Keadilan dari Seonggok Jasad
Melalui film ini, Hastry berharap masyarakat dapat memahami bahwa autopsi bukanlah sesuatu yang menyeramkan, melainkan bagian penting dari upaya mencari keadilan.
“Harapan saya, film ini untuk edukasi. Masyarakat bisa tahu bahwa tugas polisi itu seperti ini mengungkap kasus secara ilmiah, memburu pelaku, dan tidak pernah berhenti bekerja,” tegasnya.
Dengan visual yang intim dan atmosfer yang menekan, film ini membawa penonton masuk ke ruang di mana setiap luka menyimpan cerita, setiap detail menjadi petunjuk, dan setiap tubuh berpotensi mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Autopsy: Dead Body Can Talk bukan sekadar film, ini adalah pengingat bahwa dalam dunia forensik, yang diam justru sering kali paling jujur.(clue)







