Jakarta, CLUETODAY.ID — Andy Burnham resmi dilantik sebagai Perdana Menteri (PM) Inggris setelah menerima mandat langsung dari Raja Charles III di Istana Buckingham. Penunjukan anggota parlemen dari wilayah Makerfield itu menandai pergantian pemimpin pemerintahan Inggris yang ketujuh dalam satu dekade terakhir.
Mengutip laporan CNBC International, Senin (20/7/2026), Burnham menjadi PM Inggris ke-59 menggantikan Sir Keir Starmer yang mengundurkan diri setelah diterpa serangkaian skandal penunjukan staf, pembalikan kebijakan, serta kekalahan besar Partai Buruh dalam pemilu lokal.
Burnham melenggang tanpa penantang dalam pemilihan pemimpin Partai Buruh. Dalam pidato perdananya sebagai kepala pemerintahan, mantan Wali Kota Greater Manchester itu menegaskan komitmennya untuk mengubah arah politik dan ekonomi Inggris di tengah perlambatan ekonomi yang diperkirakan hanya tumbuh 0,8 persen pada 2026.
> “Kami akan menjadikan momen ini sebagai pemutus sirkuit bagi Inggris, menghadirkan model politik baru dan model ekonomi baru,” tegas Burnham dalam pidato perdananya di London.
> “Membangun ekonomi baru di mana kita menempatkan kebutuhan pokok kehidupan kembali di bawah kendali publik yang lebih kuat agar harganya terjangkau kembali, mengindustrialisasi ulang Inggris menggunakan pengadaan publik untuk mendukung industri Inggris,” tuturnya.
Salah satu langkah yang disiapkan pemerintahan Burnham adalah mempercepat eksplorasi minyak dan gas di kawasan Laut Utara. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan biaya energi yang masih membebani masyarakat sekaligus memperkuat pasokan energi domestik.
Berdasarkan estimasi independen yang dihimpun Parlemen Inggris, pengeboran baru di ladang-ladang berlisensi berpotensi meningkatkan produksi energi domestik hingga 7,5 miliar barel setara minyak.
Kebijakan itu diambil di tengah upaya Inggris menyeimbangkan target net-zero carbon dengan kebutuhan menghadirkan energi berbiaya rendah guna mendorong pemulihan ekonomi nasional.
Menjelang pelantikannya, prospek kepemimpinan Burnham yang dikenal memiliki haluan politik lebih kiri dibandingkan Starmer sempat memicu gejolak di pasar obligasi pemerintah Inggris (gilts). Namun, kekhawatiran investor mulai mereda setelah Burnham mengisyaratkan akan menunjuk Shabana Mahmood sebagai Menteri Keuangan (Chancellor).
> “Dua bulan lalu, pasar UK terkejut dengan prospek pemimpin baru Partai Buruh Andy Burnham menjadi perdana menteri. Hari ini, kedatangannya di Downing Street hanya ditanggapi dengan sedikit kebingungan,” terang James Smith, seorang ekonom pasar berkembang di ING, mengenai respons terkini para investor.
> “Premi risiko di pasar obligasi terlihat terkendali. Sebagian besar investor yang saya ajak bicara tidak mengharapkannya untuk mengguncang keadaan tahun ini, meskipun ada kekhawatiran tentang lintasan fiskal lebih jauh di masa depan.”







