Oleh : Sinta Agustiana
Ketika mereview sebuah film, biasanya kita akan terfokus pada kehebatan sang pemeran utama. Namun, tidak bagi film – film karya sutradara Christoper Nolan. Apalagi film terbarunya, The Odyssey. Setiap scene dalam Odyssey seolah menjadi scene ikonik dan menimbulkan tanya, Bagaimana scene ini dibuat?
The Odyssey sebenarnya hanyalah kisah perjalanan pulang. Mitos yang mengatakan “perjalanan pulang selalu lebih cepat” seolah terpatahkan oleh Nolan. Pasalnya, film garapannya membuat sang pemeran pulang dalam perjalanan yang panjang dan mematikan. Seperti interstellar dan Odyssey. Sepertinya, The Odyssey adalah yang terberat.
Matt Damon yang memerankan Odyssey juga berhak diberi gelar duta Bang Toyyib. Pasalnya, ia hobi memerankan film soal perjalanan pulang yang tak mudah. The Martian, Interstellar, Saving Privat Ryan dan sekarang Odyssey. Hollywood mengeluarkan dana sekitar 900 miliar dollar hanya untuk membawa Matt Damon pulang ke rumah.
Perjalanan Pulang yang Dikutuk Dewa
Odyssey adalah raja Itacha yang memiliki strategi perang gila. Bersama Agamemnon dan Achilles, ia berperang menggunakan strategi kuda Troya.
Setelah bertahun – tahun mengepung Troya dan tidak dapat menembus benteng, Odyssey dengan strategi briliannya memuat sebuah kuda raksasa untuk mengecoh pertahanan lawan. Sehingga, ia dan prajurit dapat membuka gerbang Troya dari dalam kota tanpa pertahanan berarti dengan menyusup kedalam badan kuda.
Troya ditaklukan dan pulang yang tak mudah baru saja dimulai. Pulang dengan sejumlah kutukan membuatnya terombang ambing di lautan selama 20 tahun. Bertemu Cyclops, Circe, Siren hingga Calypso.
Agamemnon 100 Persen Aura
Nolan membuat Agamemnon yang hanya berdiri diantara para prajurit memiliki 100 persen aura. Penonton tahu, inilah wujud raja kharismatik yang akan memenangkan perang.
Sebagaimana kehebatannya, kemalangan tragis juga menghantui Agamemnon. Ia adalah simbol tragis dari pengkhianatan. Ia dibunuh istrinya sendiri diatas ranjang. Dendam karena mengorbankan anak perempuannya untuk Dewa Arthemis, membuat istrinya bulat membunuh Agamemnon.
Murka Posseidon di Lautan
Diperjalanan, Odyssey bersama prajuritnya terjebak di dalam gua Cyclops. Raksasa bermata satu itu sebenarnya hanya hidup tenang bersama kawanan domba dan membuat keju. Namun masuknya Odyssey dan pasukannya adalah variable lain. Beberapa pasukan menjadi santapannya.
Odyssey sebenarnya sudah berhasil lari dengan membuat cyclops buta. Cyclops mengadu pada Posseidon yang diketahui adalah ayahnya. Egonya membuat Odyssey berbalik arah dan melepaskan anak panah untuk menegaskan bahwa dirinyalah yang menaklukan. Ia pun pulang membawa murka Posseidon dilautan luas.
Scene terombang ambing di lautan bahkan mampu membuat penonton memompa lebih banyak adrenalin. Kombinasi musik menegangkan dengan durasi panjang dan visualisasi yang menakjubkan tak kalah menakutkan dari film horor.
Minim CGI
Penggemar film – film karya Nolan sudah tahu benar bahwa Nolan tak pernah menyepelekan proses pembuatan. Ketika maraknya penggunaan CGI, Nolan membuat boneka cyclops dalam skala ukuran yang sebenarnya, membuat kota dan kuda Troya, bahkan membawa para kru dan pemeran untuk mendaki bukit, berlarian di lepas Pantai dan mendayung di laut menggunakan baju zirah.
Salah satu pulau yang mereka temui adalah pulau dengan raksasa berbaju zirah. Nolan mengumpulkan para pemeran berbadan besar untuk menyempurnakan scene tanpa CGI.
Film Pertama Didunia yang Menggunakan IMaxx 70mm Camera
Tak ingin tampil biasa, Nolan membuat filmnya hanya bisa dinikmati secara keseluruan di bioskop – bioskop dengan layar yang IMaxx 70mm. layer itu hanya dimiliki 41 biskop di dunia.
Tak hanya penonton yang perlu “effort”, proses pengambilan gambar juga tak main – main. Pasalnya, 1 roll film IMAX hanya bisa merekam maksimal 3 menit, cameramen harus mengganti roll dengan teknik khusus setiap 3 menit. Artinya, para pemeran harus nge-freeze saat pergantian roll agar berlanjut ke adegan berikutnya.
Nolan menghabiskan 640 km roll kamera atau setara dengan jarak Subang – Surabaya.
Kembali ke film, Odyssey dan pasukannya tiba di sebuah daratan. Anehnya pulau tersebut dipenuhi Binatang buas yang jinak. Beberapa singa dan harimau tampak terlihat lebih diam mengamati.
Pasukan Odyssey memasuki sebuah gubuk dan bertemu Circe. Circe memberinya makan dan membuat pasukannya menjadi babi. Penggemar anime akan langsung mengingat scene dalam film spirit away. Kurang lebih menyimpan makna akan kerakusan. Ya, Circe adalah seorang pnyihir.
Bukan Odyssey jika tak mampu menghadapinya. Ia menyelamatkan prajuritnya dan berlayar Kembali.
Siren Song dan Lotus Calypso
Scene ikonik lainnya adalah scene Odyssey yang diikat ditiang dan mendengarkankan lagu siren. Konon, isi nyanyian siren adalah tentang mimpi – mimpi, janji manis, keinginan yang bahkan dapat menjerumuskan manusia dalam kematian. Tak pernah ada yang selamat setelah mendengar lagu siren, hingga Odyssey.
Namun, seluruh awak tak terselamatkan dibawah kuasa lautan Posseidon. Lautan melumat seluruh prajurit dan menyisakan sang pemeran utama. Tantangan terberat Odyssey sepertinya bukanlah monster. Tapi bunga lotus dibawah pengaruh Calypso.
Calypso adalah nimfa yang memanipulasi Odyssey untuk melupakan seluruh kehidupan, ingatan dan bahkan tak memiliki tujuan hidup. Tak tanggung – tanggung, Odyssey terjebak selama 7 tahun tanpa mengingat apapun. Calypso bahkan menawarkan keabadian.
Pemeran Bertabur Bintang
Peran Athena untuk membantu Odyssey pulang juga penting. Diperankan Zendaya, ia selalu membantu Odyssey untuk kembali pulang. Jika penulis jadi pemeran film, saya akan memilih Zendaya. Tak memiliki banyak dialog, tapi kehadirannya sudah membuatnya penting.
Berbeda dengan kekasihnya, Tom Holland justru mendapat banyak dialog sebagai Telemachus. Ia yang mencari sang ayah beradu akting dengan Anne Hatteway, Penelopa.
Penelopa, Simbol Kesetiaan
Tak hanya pulang yang tak mudah, Odyssey disuguhkan keadaan rumah yang berantakan. 20 tahun berdiri dengan kekosongan tahta Itacha membuat kerajaan dipenuhi para pelamar sang istri.
Namun, Penelopa setia menunggu kepulangan. Kegiatannya adalah menenun kain. Ia berjanji akan memberikan jawaban usai kainnya rampung. Konon mitosnya, diam – diam ia mengurai kembali kain itu untuk mengulur waktu. Aktingnya menjadi Penelopa sudah cukup membuktikan bahwa ia adalah peraih Piala Oscar.
Keadaan Itacha yang berantakan diwarnai oleh akting nyentrik Robert Pattinson sebagai Antinous, pelamar Penelopa yang memiliki karakter pengecut. Perannya membuat penonton lupa bahwa dia pemeran vampir legendaris.
Odyssey pulang dengan heroic usai menyelamatkan Telemachus dan memenangkan tantangan panah miliknya sendiri.
Helen vs Lupita Nyong’o
Tak sepenuhnya dibanjiri ulasan positif, Nolan juga mendapat kritik usai menempatkan Elliot Page sebagai Sinon. Public menyangka, posisi tersebut merupakan pemeran Achilles. Namun Sinon adalah prajurit Yunani yang menipu Troya, berbeda peran dengan Achilles.
Kritik lain adalah pemilihan pemeran Helen. Dalam ceritanya, Helen adalah Wanita pemicu perang karena kecantikannya. Namun, dalam The Odyssey, Hellen diperankan oleh Lupita Nyong’o yang memiliki kulit hitam. Berbeda dengan karakteristik Wanita Yunani.
Namun, penulis berpendapat bahwa Odyssey memiliki sudut pandang berbeda dengan film Achilles maupun Troy, sehingga pusat cerita harus dialihkan pada tokoh lain.
Ratting Nyaris Sempurna di Rotten Tomatoes
The Odyssey mendapat rating 94 persen di Rotten Tomatoes dan 97 persen menurut audience score. Dalam dua pekan penayangan, Odyssey sudah meraup sekitar 652 juta dollar dengan modal film 250 juta dollar. Bisa disebut, Odyssey adalah “Masterpiece” dari karya Chirstoper Nolan.(clue)







