Mengapa Komunikasi Prabowo seperti Itu?

Picture of Redaksi

Redaksi

pekan depan puan dan prabowo berkuda bareng di hambalang 29082022 162801

Apa yang paling membuat publik kecewa dan marah terhadap pemerintahan Presiden Prabowo?

Munculah beberapa hal yang paling banyak diperbincangkan: MBG, Kopdes, Danantara, Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), pelemahan rupiah, polemik film Pesta Babi hingga kenaikan harga BBM.

Apa lagi? Anda bisa menyebutkan sendiri.

Lalu siapa yang bisa menjawab berbagai polemik isu tersebut. Siapa yang bisa menterjemahkan apa yang disampaikan Prabowo. Siapa yang bisa meredam tensi publik setelah Prabowo pidato. Kita sudah tahu, pidato Prabowo sering memantik reaksi protes publik setelah pidato.

Diksi yang dipilih Prabowo jauh dari gaya pemimpin orang Jawa sebelumnya: SBY dan Jokowi. Lebih santun, pakai bahasa kiasan, tidak to the poin dan jika ingin “menampar” orang lain pun caranya lebih halus: nabok nyilih tangan.

Prabowo memilih diksi yang sederhana. Berani mengkritik balik. Pakar komunikasi Gun Gun Heryanto menyebutnya itu gaya dynamic comunication. Ada pula yang menduga, gaya komunikasi Prabowo seperti itu karena dibesarkan di lingkungan militer. Tegas dan apa adanya. Tapi, kita sudah dua kali dipimpin Presiden dari militer: Soeharto dan SBY. Keduanya sangat mencerminkan budaya Jawa dalam berkomunikasi.

Mengapa Prabowo tidak seperti dua presiden pendahulunya itu? Saya menduga, karena Prabowo saat kecil tidak dibesarkan di lingkungan Jawa. Meskipun kakeknya, pendiri Bank BNI: Margono Djodjohadikusumo, asli orang Banyumas. Bangsawan Jawa.

Ayah Prabowo: Soemitro Djojohadikusumo juga seorang begawan ekonomi, Menteri perdagangan di pemerintahan Orde Lama era Soekarno. Sumitro disebut sebagai peletak dasar ekonomi makro. Dikenal pula dengan Soemitro Plan. Sumitro mendesain ekonomi masyarakat Indonesia bergeser dari pertanian ke industri.

Tapi Soemitro kemudian bersebrangan dengan Presiden Soekarno. Ia dituding terlibat pemberontakan PRRI. Mungkin karena ide ekonominya cukup radikal. Bahkan dituding antek asing: agen intelejen CIA.

Akhirnya Soemitro bersama 4 anaknya: Prabowo, dua kakak perempuan Biantiningsih dan Maryani, serta adiknya Hashim Djojohadikusumo pergi keluar negeri. Berpindah-pindah negara. Prabowo pernah tinggal dan sekolah di Singapura, Swiss, Hongkong, Malaysia, Amerika hingga Jerman.

Baru kemudian menginjak dewasa, Prabowo memilih masuk Akmil lulus tahun 1974. Hashim jadi pengusaha dan dua kakak Prabowo memilih aktif di dunia usaha dan sosial.

Tentu masa remaja Prabowo dihabiskan di berbagai negara dengan budaya yang berbeda jauh dari nusantara. Maka tak heran kini sangat mudah bergaul dengan berbagai pemimpin dunia. Pemahamannya tentang budaya nusantara didapatkan selama bertugas di militer.

Prabowo sudah kaya dari lahir. Mungkin tidak merasakan nasi tiwul, main kelereng, naik kerbau di sawah atau nyari udang di sungai. Berbeda dengan masa lalu Soeharto, apalagi dengan Jokowi dan Gus Dur.

Tapi Prabowo sangat senang diskusi. Bertukar pikiran dengan berbagai orang. Beberapa menterinya kenal dekat dengan Prabowo berawal dari diskusi. Prabowo senang mengumpulkan orang, menjamu dan mendidik anak-anak muda.

Di tahun 2014 saya pernah ke Hambalang. Ke “istana” Prabowo di puncak bukit Hambalang, Bogor. Ada aula tempat jamuan tamu. Merasakan dijamu, makan prasmanan sepuasnya. Ada padepokan tempat pelatihan telenta muda kader Gerindra, lulusannya disebut Hambalang Boy.

Ikut mendengarkan paparan gagasannya tentang memajukan Indonesia di aula khusus bernuansa kuning keemas an. Berukiran jawa. Prabowo duduk di kursi khusus. Di ujung meja tamu yang panjang dan mewah. Seperti singgasana raja, di belakang kursi dihiasin ukiran kayu berbentuk “gunungan” wayang.

Ya begitulah gaya komunikasi Prabowo. Tidak banyak berubah. Sampai sekarang. Sudah bakatnya begitu. Mungkin Prabowo lebih mirip Donald Trump. Berani mengkritik balik para pengkritiknya. Tak peduli ia presiden yang harus jaga wibawa.

Tapi tidak seekstrem Trump. Bedanya, Trump banyak menggunakan bahasa hiperbola: militer terkuat di bumi, pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya, kekuatan tak tertandingi dan kalimat-kalimat hiperbolis lainnya.

Gaya komunikasi SBY mirip Obama: terstruktur dan santun. Gaya Xi Jinping mirip dengan dengan Putin. Tidak bicara berlebihan. Seperlunya. Menyampaikan pesan lebih banyak diwakili menteri atau juru bicara: terkesan misterius. Begitulah dunia menghadirkan para pemimpin. Silahkan Anda terinspirasi yang mana.

Tapi jika komunikasi pemerintah terus-terusan blunder, multi-tafsir apalagi kontroversi, akan menyebabkan citra pemerintah negatif di masyarakat. Maksud “baik” pemerintah disalahpahami. Endingnya kepuasan terhadap kinerja presiden akan merosot.

Secara politik ini jadi lampu kuning. Memantik demo di mana-mana. Negara jadi gaduh. Pelaku usaha tidak nyaman. Masyarakat pun akan merasa terganggu.

Purbaya, Bahlil hingga Pak DO

Lalu siapa sebenarnya yang bisa menjelaskan ke publik mewakili pemerintah? Memang, Prabowo sudah bongkar pasang juru bicara. Bahkan yang bukan juru bicara juga “ditugaskan” bicara mewakili pemerintah.

Letkol Teddy gagal menjawab Dinno Pati Jalal yang mengkritik diplomasi dan kunjungan Prabowo ke luar negeri. Dadan blepotan menjawab kritik terhadap program MBG. Malah makin parah: jadi tersangka korupsi. Qodari dan Meutya Hafid juga belum jitu meredam beragam isu di media sosial.

Sedangkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah lama jadi bulan-bulanan kritik dan meme publik. Tapi endingnya tidak terduga, lahirlah lagu MBG: Mas Bahlil Ganteng. Viral, lucu dan jadi populer di kalangan Gen Z. Mungkin itu buah manis dari kesabaran dikritik.

Para aktivis dan orator seperti Nusron Wahid dan Budiman Sujatmiko juga belum mampu meredam kemarahan adik kelasnya, mahasiswa di berbagai kampus. Malah diusir saat diskusi di UGM. Narasi Budiman yang tegas, lantang tak kalah sangar dari mahasiswa malah dianggap menantang. Disebut penjilat kekuasaan.

Dalam kultur Jawa, menurut Indonesianis-antropolog Ben Anderson, menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun akan jauh dihormati. Dalam kultur Sunda ada istilah; hade goreng ku basa.  Masalah serumit apapun bisa diselesaikan dengan berkomunikasi yang baik.

Tapi dalam setiap dinamika komunikasi pemerintahan, selalu lahir figur baru. Komunikator baru yang bersinar. Seperti dulu Johan Budi piawai menjadi jubir KPK. Anies Baswedan jadi jubir Jokowi hingga jadi Gubernur DKI Jakarta. Rezim Jokowi pun melahirkan kritikus pupuler Rocky Gerung.

Kini muncul figur Menkeu Purbaya yang bisa menjelaskan persoalan ekonomi dengan bahasa lugas dan mudah dipahami masyarakat awam. Wamen Dikti Prof. Stella pun cukup disukai publik. Mensesneg Prasetyo Hadi penjelasannya lebih mudah dicerna. Wakil Ketua merangkap Jubir BGN Agustina Arumsari, akuntan dan auditor senior kini bisa diandalkan menjelaskan program MBG.

Yang mengejutkan, diakui banyak pihak, peran Sufmi Dasco. Ia dijuluki Don Dasco. Di senayan pun populer akronim: Kabinda (kader binaan Dasco) dan Adidas (anak didik Dasco). Salahsatu Kabinda yang tenar ya Raffi Ahmad. Kegaduhan di pemerintahan maupun di senayan bisa senyap seketika. Jika Dasco sudah turun tangan.

Tanpa ragu, saat terjadi kegaduhan Dasco langsung menemui Prabowo. Misal gaduh impor mobil Kopdes. Setelah bertemu Prabowo, Dasco langsung mengumumkan menyetop impor mobil. Kegaduhan langsung senyap. Bahkan saat rupiah lemah dan IHSG anjlok, Dasco dan Raffi turun. Masalah selesai.

Dasco lagi, Dasco lagi.

Seperti di era Jokowi ada sebutan 4 L: Luhut lagi…Luhut lagi.

Selain mereka, masih ada lagi yang piawai. Tidak begitu populer. Tapi cerdas dan komunikasi publiknya pun baik. Jarang tampil di media mainstream. Ia senang bekerja di belakang layar. Dialah Dony Oskaria.

Populer dipanggil Pak DO. Kepala BP BUMN merangkap COO Danantara. Koki yang meracik BUMN agar ramping. Dari total sekitar 1.077 perusahaan ditargetkan menjadi sekitar 300 perusahaan saja.

Cara Pak DO menjelaskan kinerja Danantara dan perampingan BUMN sangat jelas. Coba simak di kanal Youtube “Bukan Kaleng-Kaleng”. Dengan fasih ia pun menjelaskan tujuan didirikannya PT DSI yang akan mengatur ekspor satu pintu. Pak DO juga logis menjelaskan mengapa program MBG harus terus dijalankan.

Maka semakin jelas, kini eranya teknokrat, professional dan non kader partai yang cenderung lebih dipercaya dan disukai publik. Saatnya negara lebih berhati-hati menyampaikan komunikasi publik. Sodorkanlah figur yang tepat untuk menjadi juru bicara pemerintah.

Selain itu, memahami psikologi audiens juga sangat penting. Agar diksi yang dipilih lebih relevan dan mudah dipahami. Selanjutnya, pilihlah medium yang tepat untuk menyampaikan informasi kepada publik. Pilihan pemerintah memilih homeless media memang tidak salah, tapi kemasan dan timing menyampaikan pesan pun harus diracik sesuai dengan target audiens.

Sebaiknya komunikasi pemerintah jangan terkesan anti kritik, menceramahi balik, menggurui, apalagi merendahkan. Pahami substansi kritik. Selebihnya, enjoy saja seperti Bahlil yang akhirnya dapat hadiah lagu spesial dari netizen.

Tidak ada kritikan yang lebih keras selain yang pernah dirasakan Bahlil. Tapi tidak ada buah yang lebih manis selain Buahlil. (*)

Catatan Lukman Enha

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top