Sudah tiga bulan terakhir ini para pelanggan air Perumda Tirta Rangga di wilayah Kota Subang merasa marah, kesal dan kecewa. Sebab air keruh, kecil, kadang tiba-tiba off. Beberapa di antara pelanggan langsung komplain dan posting di media sosial.
Sebenarnya kondisi itu sudah lebih dari tiga bulan. Sejak kami memutuskan untuk membenahi jaringan perpipaan yang sudah 40 tahun di wilayah Kota Subang. Banyak yang sudah tumpang tindih.
Dua tahun sebelumnya sudah dilakukan pemasangan Distrik Meter Air (DMA) di beberapa titik. Sehingga memudahkan menganalisa debit air agar sesuai kebutuhan. Idealnya, per 100 pelanggan cukup disuplai 1 liter per detik (lpd).
Keluhan pelanggan memuncak di saat musim hujan. Sebab, kondisi air baku dari mata air Cibulakan, Cijambe mengalami kekeruhan. Dalam kondisi ekstrem, kekeruhan hingga di atas 100 ntu (nephelometric turbidity units). Ibarat air sungai saat musim hujan. Kondisi mata air seperti itu abnormal, tidak wajar. Idealnya, mata air harus jernih. Seperti mata air Cipondok, Cisalak. Hujan deras tidak mempengaruhi kualitas air.
Sebenarnya kekeruhan mata air Cibulakan bukan terjadi baru-baru ini. Mungkin sudah sekitar tiga tahun terakhir. Mengapa mata air Cibulakan, Cijambe keruh? Akan saya bahas selanjutnya, lebih detil mengacu kepada kajian ilmiah.
Sebelumnya, kami menggunakan teknologi filter vessel untuk menangani kekeruhan itu. Tapi jika kekeruhan di atas 30 ntu, teknologi itu sudah tidak maksimal untuk melakukan filtrasi. Petugas operator harus sering melakukan back wash.
Sebab pasir dalam filter sudah jenuh, tidak sanggup menyaring kekeruhan. Otomatis air terbuang. Tidak terjual. Debit distribusi air ke pelanggan menurun. Setelah dihitung, dalam satu tahun sekitar 20 persen debit air ‘terbuang’ karena terus dilakukan back wash dan wash out di jaringan.
Kondisi ini memerlukan solusi. Kami diskusi di internal. Konsultasi dengan para ahli. Setahun lalu kami pun beberapa kali diskusi dengan perusahaan teknologi filter Korea Selatan. Mereka punya teknologinya, tapi harganya mahal. Untuk 50 lps saja diperlukan biaya sekitar Rp4,5 miliar. Belum lagi kompartemen filter harus diimpor. Diterima utuh di Indonesia.
Mereka tidak mau melakukan perakitan di Indonesia. Khawatir hasilnya tidak sempurna. Belum lagi biaya mobilisasi dari pelabuhan ke Subang, akan ribet dan mahal. Tidak relevan. Pernah datang juga perusahaan dari Singapura konsorsium Tiongkok. Mereka akan bantu cari solusi, tapi tidak datang lagi.
Tidak menyerah. Cari alternatif lain. Konsultasi dengan beberapa pihak. Kami sampaikan permasalahannya. Beberapa ahli malah angkat tangan, belum punya pengalaman mengatasi mata air yang keruh ekstrem. Keputusan sudah mengkrucut bahwa air ini harus dioleh melalui water treatment plant (WTP) dengan desain khusus.
Mengapa khusus? Sebab WTP yang dibuat bukan mengolah air baku dari sungai. Seperti WTP konvensional pada umumnya. Ini WTP untuk mengolah mata air. Entah, di Indonesia mungkin belum ada WTP seperti ini. Tapi apa boleh buat, karena kekeruhan dari mata air sudah seperti air sungai maka harus diolah di WTP.
Akhirnya desain WTP dibuat. Konsep sudah jadi. Ini WTP spesial. Sejak awal saya tegaskan bahwa anggaran kita terbatas. Hanya mengandalkan dari penyertaan modal Pemda dan dana internal. Itu pun anggarannya tarik-menarik dengan upaya untuk menambah jaringan dan pelanggan baru.
Masyarakat yang kesulitan air minta subsidi biaya pemasangan. Sudah terlanjut terbiasa di-cover oleh APBN melalui program masyarakat berpengasilan rendah (MBR). Tapi sejak 2024 program itu dihapus, hingga sekarang tidak ada. Anda sudah tahu ke mana fokus APBN terkonsentrasi.
Rahasia WTP
Pak Direktur Teknik bersama tim perencanaan teknik berfikir keras. Pak Direktur Umum was-was, biayanya khawatir tidak cukup. Akhirnya setelah mendapat ‘wahyu’, konsultasi dan diskusi marathon muncul perhitungan untuk WTP khusus itu. Hanya butuh sekitar Rp1,2 miliar.
Saya kaget. Bingung. Gembira. Kok bisa? Sebab, per satu liter per detik, idealnya dibutuhkan anggaran Rp 100-200 juta. Untuk mengolah kapasitas 120 lps dari mata air Cijambe diperlukan minimal Rp 12 miliar.
Apa rahasianya bisa murah? Kompartemen untuk sedimentasi tetap didesain seperti WTP konvensional lengkap pada umunya. Hanya struktur bangunan tidak seluruhnya beton, tapi tetap menggunakan rangka beton bertulang. Dikombinasikan dengan struktur dinding batuan. Diuntungkan dengan posisi WTP di Cijambe dengan kontur tanah berbatu yang rapat.
Banyak tantangan yang terjadi saat membangun WTP. Menghadapi bongkahan batuan keras dan besar di area. Yang utama, harus memperhitungkan daya tahan bangunan untuk menampung debit maksimum, bahkan saat lebih 120 lps.
Setelah terbangun WTP, petugas masih memerlukan waktu untuk melakukan ‘penelitian’. Agar ditemukan formula dan dosis yang pas dalam proses pembubuhan kimia. Di sinilah tantangannya. Berpacu dengan pelanggan yang sudah capek mendapat kondisi air keruh. Jika saya pelanggan, saya pun pasti kesal. Hal yang wajar.
Saya tugaskan tim produksi dan distribusi untuk fokus selama satu bulan. Tongkrongin WTP dan evaluasi terus-menerus. Siang dan malam. Petugas operator pun ditambah dan dilatih. Harus siaga. Sebab, kondisi air baku bisa tiba-tiba berubah. Operator harus cek kekeruhan setiap jam. Tidak boleh lengah! Sebab takaran bahan kimia harus sesuai dengan kekeruhan.
Tibalah saatnya uji coba. Saat 120 lpd dimasukan ke WTP dengan kekeruhan 80 ntu ternyata pengolahan belum berhasil. Masih keruh. Tim mencari cara: tambahkan polimer sebagai agen koagulan dan flokulan. Mempercepat mengikat kekeruhan. Turunkan ke 100 lps, ternyata kekeruhan bisa turun hingga 8-10 ntu. Coba lagi di 80 Saat kekeruhan 30 ntu, bisa turun drastic ke 3-5 ntu. Alhamdulillah, berhasil!
Tapi, masalah muncul. Setelah dialurkan ke aerator, plock yang sudah “terikat” oleh polimer kembali terbawa dan “pecah”. Kekeruhan naik lagi. Di sinilah PR tambahan. Tim kemudian mencari cara: menaikan gutter (talang air WTP) agar plock yang sudah terikat tidak terbawa naik ke permukaan dan terbawa ke aerator. Penyempurnaan saluran back wash juga dilakukan. Sebab dalam kondisi tertentu, saat pasir filter sudah jenuh/lengket harus dilakukan back wash. Hanya tidak sesering saat masih menggunakan filter vessel.
Rangkaian uji coba WTP itu memerlukan waktu, pikiran dan biaya. Saat diskusi, masih ada beberapa strategi lagi yang akan kami lakukan. Bagian dari proses penyempurnaan. Keadaan memaksa kami berfikir keras. Mencari cara yang hemat, murah, efesien dan efektif. Tapi bukan terinspirasi Iran membuat drone murah untuk melawan AS-Israel. Tantangan kami hanya air keruh. Tantangan Iran serbuan pesawat F-15 dan F-35.
Tentu dalam proses ini ada pula dampaknya kepada pelanggan. Di wilayah tertentu, pelanggan akan merasakan dampak tiba-tiba air off. Tiba-tiba keruh. Tiba-tiba terjadi kebocoran di jaringan pipa karena tekanan yang tidak stabil.
Dampak lainnya: terkadang ada gumpalan dan endapan air yang terbawa ke konsumen. Itu akibat kotoran dalam jaringan pipa terkuras oleh bahan kimia. Itu tidak berbahaya. Tidak beracun. Tidak menyebabkan gatal. Justru jika tidak dibubuhi bahan kimia, itu yang berbahaya untuk kesehatan.
Siaga 24 Jam
Saat pelanggan gaduh karena gangguan air, maka sebenarnya di internal kami jauh lebih gaduh. Grup whatsapp tim produksi distribusi (prodist) akan berisik. Sesekali saya pun harus memastikan turun ke lapangan. Operator naik turun WTP. Tak peduli saat dini hari atau hujan sekalipun. Tim cabang harus langsung ke lapangan untuk melakukan pengurasan jaringan agar kembali jernih dan normal.
Saat keruh malam hari, kami harus pastikan pagi hari sudah kembali jernih. Saat keruh siang hari, kemi harus berjibaku agar sore hari saat pelanggan mandi, harus jernih. Wajib dilakukan wash out di jaringan. Begitu terus berulang. Tanggung jawab yang melekat.
Usai perbaikan kebocoran bukan berarti tugas selesai. Biasanya banyak pelanggan yang komplain: mengapa air belum ada. Padahal perbaikan sudah selesai. Inilah penyebabnya: saat perbaikan, pipa ditutup sementara. Nah saat pipa kosong, maka pipa terisi angin. Saat pipa kembali terisi air, maka akan bertabrakan dengan tekanan udara dalam pipa. Air terjebak udara. Tim harus membuka air valve di beberapa titik agar angin terbuang dan air terdorong maksimal hingga ke kran konsumen.
“Wayahna, saya tahu teman-teman kurang tidur. Harus terus ke lapangan saat terjadi gangguan. Manajemen wash out harus terjadwal. Jangan nunggu aduan dari pelanggan. Jangan semua tim ke lapangan terjun perbaikan, harus ada yang bertugas normalisasi usai perbaikan. Memang beginilah konsekuensi bekerja di sektor layanan publik. Harus siaga 24 jam,” begitu saya tegaskan ke semua cabang, terutama tim Cabang Subang.
Sudah hampir satu bulan WTP Cijambe diujicoba. Kami sadar, konsumen sudah tidak sabar. Mungkin sudah jengkel dan marah. Sebab, sudah dalam satu tahun terakhir kondisi ini terjadi. Sejak kami melakukan rekayasa jaringan, agar tekanan sampai ke ujung layanan di wilayah Padaasih, Cibogo di tahun lalu. Dilanjutkan dengan pembangunan WTP.
Cukup sampai di sini? Rasanya tidak. Berdasarkan hitungan kami, masih banyak water losses. Debit terdistribusi terlalu besar jika dibandingkan dengan jumlah pelanggan. Ke mana airnya? Kalau bocor ke atas maka akan kelihatan. Ini tidak terlihat. Bisa jadi di akurasi water meter (WM). Inilah yang sering kami sebut kebocoran administrasi. Tahun depan harus dilakukan penggantian WM yang sudah tidak akurat dalam jumlah besar.
Tahap selanjutnya, kebutuhan pelanggan wilayah Subang Kota, Cijambe dan Cibogo sudah tinggi. Permintaan akan terus bertambah. Kami sudah merencanakan akan membangun SPAM baru. Idealnya, layanan Rawabadak hingga Cibogo harus terpisah. Sehingga mata air Cibulakan terfokus untuk melayani Cijambe, Subang kota hingga Subang bagian barat perbatasan Dawuan.
Hapunten air Perumda TRS masih keruh. Hapunten saat milangkala Subang ke-78 air masih keruh. Hapunten saat mau mandi pagi air keruh. Mandi sore air keruh. Hapunten kami masih terus ujicoba untuk mewujudkan layanan yang terbaik. Hatur nuhun sudah memahami kondisi kami. Hatur nuhun sudah tetap membayar tagihan air. Hatur nuhun sudah bersabar.(*)
Catatan Lukman Nurhakim–Dirut Perumda Tirta Rangga Subang










