SUBANG, CLUETODAY.ID — Pemerintah Kabupaten Subang mencatat sebanyak 24.645 keluarga berisiko tengkes atau stunting (KRS).
Angka ini terungkap dalam sambutan Bupati Subang Reynaldy pada Kunjungan Kerja Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sugiono dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN di GOR Gotong Royong Subang, Senin (02/11/26).
Dari total 24.645 sasaran KRS yang teridentifikasi, pemetaan kelompok rentan menunjukkan komposisi sebagai berikut:
Ibu Balita (Bayi di Bawah Lima Tahun): 12.257 sasaran (49,73%), Ibu Baduta (Bayi di Bawah Dua Tahun): 8.861 sasaran (35,95%), Ibu Hamil: 3.527 sasaran (14,31%).
Kelompok Ibu Balita mendominasi hampir separuh dari total peta risiko. Namun, perhatian khusus berfokus pada 12.388 sasaran prioritas utama (gabungan Ibu Hamil dan Ibu Baduta) yang berada pada fase kritis 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Untuk menjangkau intervensi hingga ke tingkat RT/RW dan desa, Pemkab Subang mengerahkan 5.868 orang tenaga pendamping lapangan. Pasukan ini terdiri dari gabungan Tim Pendamping Keluarga (TPK), Penyuluh KB (PLKB), Pos KB, hingga Sub Pos KB.
Secara rata-rata satu orang kader pendamping mengampu sekitar 4 hingga 5 keluarga berisiko stunting.
Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita Budi Raemi, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya dipandang sebagai isu medis belaka. Penanganan memerlukan pendekatan holistik mencakup perencanaan keluarga, pemenuhan gizi, air bersih, sanitasi, hingga bantuan sosial.
“Data tersebut menjadi pengingat bahwa masih terdapat tanggung jawab besar yang harus kita laksanakan bersama. Setiap angka menggambarkan keluarga yang membutuhkan perhatian, informasi, akses pelayanan, dan pendampingan secara berkesinambungan,” tegas Bupati Subang dalam sambutannya.
Sementara itu, Menteri PMK, Sugiono, menyebut masalah tengkes bukan hanya persoalan pemenuhan gizi saja. Namun, menyangkut kondisi lingkungan tempat keluarga tersebut tinggal.
Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup untuk mengatasi persoalan stunting. Perbaikan sanitasi, akses air bersih, dan kualitas tempat tinggal juga menjadi faktor penting dalam upaya menekan angka stunting.
Dalam kunjungannya ke Subang, Sugiono sempat meninjau sejumlah keluarga rawan stunting di Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin (02/11/26).
Dia didampingi Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji, Bupati Subang Reynaldy Putra Andita, serta Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi.
Hasil peninjauan, Sugiono melihat persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi anak, tetapi juga kondisi lingkungan tempat keluarga tinggal.
“Kita lihat bahwa situasi stunting tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya gizi saja, tetapi juga terlihat dari kondisi lingkungan tempat mereka tinggal,” ujar Sugiono.
Menurutnya, sejumlah keluarga yang memiliki balita stunting masih tinggal di lingkungan dengan kondisi rumah dan sanitasi yang memprihatinkan. Karena itu, penanganan stunting perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui pemenuhan kebutuhan gizi.
Sugiono menekankan bahwa perbaikan kualitas hidup masyarakat harus berjalan beriringan dengan program pemenuhan gizi, termasuk MBG yang menyasar anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Upaya pemberantasan stunting tidak hanya meneruskan program MBG yang sudah ada, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup, tempat tinggal, sanitasi yang mereka miliki, dan juga memperbaiki asupan makanan serta kebutuhan lainnya,” jelasnya.




