Seporsi Mie Ayam untuk Berjudi

Picture of Cecep M yusup

Cecep M yusup

whatsapp image 2026 01 14 at 21.45.45
Ilustrasi: AI

Tanpa pernah membaca kutipan Sutan Syahrir “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan”. Yatno, 63 tahun, bertaruh dengan penuh kesadaran di situs judi online kesayangannya. Bukan untuk menang, katanya, tapi untuk “coba-coba rezeki”.

Yatno (bukan nama asli), seorang penjual mie ayam keliling, adalah wajah Indonesia. Ia manusia agung versi jalanan: tawakal, penuh keyakinan bahwa seberat apa pun hidup, kasih sayang bandar tak akan ke mana.

Dan barangkali benar. Bangsa ini pun sebenarnya Yatno. Sudah terbiasa berjudi entah lewat pilkada, jalan hidup, atau kebijakan negara. Dalam Serat Pararaton utawa Katuturanira Ken Angrok, kitab dari abad ke-15 yang konon mencatat kisah pendiri Singhasari, disebut bahwa Ken Angrok adalah anak angkat dari Bango Samparan, seorang penjudi ulung. Dan seperti dongeng-dongeng penuh mukjizat, Ken Angrok justru membawa rezeki bagi si penjudi. Bukan kutukan, tapi keberuntungan.

Jauh sebelum QRIS dan promo bonus 100%, masyarakat di nusantara sudah akrab dengan perjudian. Dalam prasasti abad ke-8 seperti Prasasti Waharu, Sangsang, dan Kaladi, tercatat praktik sabung ayam yang dilegalkan lengkap dengan hukuman bagi yang kalah dan tidak membayar. Bahkan pada 1958, Clifford Geertz menyempatkan diri meneliti praktik itu di Bali, menulisnya dengan telaten sebagai bagian dari “drama sosial” masyarakat.

Maka, ketika Yatno meminta QRIS pada saya seusai menyiapkan semangkuk mie ayam, saya pikir itu hal biasa.
“Mas, sekarang bisa QRIS, ya,” katanya bangga, seperti baru lulus pelatihan digitalisasi UMKM.

Saya ambil HP, scan barcode yang dilaminasi dan digantung dengan lakban, lalu kirim Rp13.500 dengan senyum. Sore itu, saya pulang dengan mie ayam hangat dan perasaan lega: teknologi memudahkan hidup rakyat kecil. Namun, Saya keliru.

Keesokan harinya, gerobak Yatno lenyap. Tidak ada mie ayam. Tidak ada kuah. Tidak ada Yatno. Saya tanya ke warung sebelah.
“Pak Yatno ke mana, Bu?”
Ibu warung menghela napas pendek. “Katanya modal dagangnya habis. Buat main slot.”

Saya diam. Tidak kaget. Tidak marah.

Hanya mengingat uang QRIS saya kemarin 13.500 yang seharusnya untuk ayam, bakso, dan mie kuning, ternyata berubah jadi mimpi 1.000x lipat. QRIS-nya masih tergantung, saldo dompet digitalnya mungkin tinggal sisa cashback.

Saran untuk Negara (Kalau Masih Mau Dengar)

Di negara ini, barangkali kita semua sedang seperti Yatno. Berjualan seadanya, berjudi diam-diam, berharap rezeki datang dari arah yang tak disangka-sangka. Dan ketika gerobak hidup tak muncul esok hari, kita hanya bisa bilang, “Ah, mungkin slot-nya lagi zonk.”

Tapi kalau boleh kasih saran dan ini serius tutup saja situs-situs judi online itu. Atau kalau tidak bisa ditutup (karena konon “sulit dilacak”, padahal bisa diiklankan di Instagram), naikkan saja minimum deposit-nya. Jangan receh. Buatlah supaya deposit awalnya minimal 30 juta biar yang main benar-benar orang yang siap kalah, bukan orang seperti Yatno yang baru saja menjual tiga mangkok mie ayam.

Sekalian, kalau bisa, tambahkan juga fitur verifikasi kekayaan,
seperti Foto rumah minimal dua lantai, Bukti punya tabungan di atas 100 juta, Dan sertifikat bebas utang koperasi. Karena berjudi itu bukan masalah moral Tapi masalah modal.

Selama masih ada situs slot bisa deposit 10 ribu, Maka selalu ada risiko mie ayam kita ikut jadi tumbal.

Penulis: Anja Hawari Fasya, Kolumnis Muda Subang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top