Mencari kerja memang sulit. Beragam artikel telah banyak membeberkan bagaimana sulitnya mencari kerja di Indonesia. Artikel soal Gen Z sulit cari kerja dan pengalaman – pengalaman tidak menyenangkan soal mencari kerja banyak ditemukan.
Namun, tak sedikit pula yang banyak memilih resign setelah mendapat pekerjaan yang sulit itu. Alasannya beragam. Namun, alasan resign seperti lingkungan kerja yang toxic hampir tak pernah menjadi evaluasi perusahaan. Seringkali, yang resign lah yang merasa bahwa dirinya yang sulit beradaptasi atau masih memiliki kemampuan yang kurang memadai.
Padahal, lingkungan toxic itu nyata.
Mari berkaca pada perusahaan raksasa yang saat ini sedang merajai industri hiburan global. Netflix. Sebuah platform daring yang sepertinya tak pernah bosan untuk terus berkembang pesat. Ia pintar mencari peluang. Bagaimana tidak? Drama korea dengan jutaan penggemar bisa hanya menayangkan filmnya di platform Netflix.
Bukan main, perusahaan yang bertransformasi dari penyewaan DVD melalui pos tersebut ternyata memiliki budaya kerja yang mahal. Netflix tidak menoleransi karyawan berbakat yang toxic. Istilah mereka, “No Briliant Jerks”.
No Briliant Jerks pertama kali dipopulerkan oleh CEO Netflix, Reed Hastings dalam presentasinya yang berjudul Netflix Culture, Freedom & Responsibility pada Agustus 2009. Presentasi tersebut tampak seperti pedoman kerja untuk para karyawan.
Namun yang mencuri perhatian adalah point – point yang menjelaskan tentang bagaimana karyawan bisa menghasilkan ide kreatif dan melahirkan inovasi yang dapat menguntungkan dengan tetap menciptakan lingkungan nyaman di perusahaan.
Hasting menyebut bahwa beberapa perusahaan yang membiarkan Briliant Jerks tidak sebanding dengan harga dari efektifitas kerja tim yang terlalu tinggi.
“Some Companies tolerate them. For us, the cost to teamwork is too high,” kata Reed Hastings dalam presentasinya.
Briliant Jerks biasanya adalah karyawan pintar. Mengutip Wellhub, karyawan ini biasanya menjadi pelopor inovasi, hasil kerja yang melampaui ekspektasi, suka merendahkan, sulit menerima kritik dan mempertahankan egonya.
Briliant Jerks bahkan seringkali menjadi yang paling unggul dalam meningkatkan omset perusahaan. Namun, karakter ini justru yang paling banyak mempengaruhi dan mengubah budaya perusahaan lebih besar dari siapapun. Karna ia akan bersifat manipulatif, egois dan intimidatif.
Budaya kerja Netflix banyak menimbulkan pro kontra. Terutama tentang karyawan yang tak memiliki hari libur yang formal. Netflix membaca kinerja bukan dari seberapa lama ia di kantor, tetapi hasilnya.
Budaya ini banyak berkembang di industri media. Namun untuk pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan Briliant Jerks sulit dilakukan. Pasalnya. PHK di indonesia sudah diatur. PHK harus memiliki alasan yang jelas.
Pemecatan atau PHK di Indonesia telah diatur dalam Undang – Undang Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 dan perubahannya dalam Undang – Undang Cipta Kerja. Alasan – alasan PHK harus jelas seperti keadaan khusus, pelanggaran, efisiensi, pengunduran diri, mangkir 5 hari atau sakit lebih dari 12 bulan.
Diluar hal – hal tersebut, perusahaan dilarang untuk memberhentikan karyawan. Namun, hal – hal sosial seperti kenyamanan karyawan tidak diatur dalam undang – undang secara jelas.
Yang terjadi biasanya adalah karyawan akan mengundurkan diri dengan alasan tidak cocok dengan perusahaan. Seolah, lingkungan toxic menjadi hal tabu untuk dibicarakan dengan manajemen.
Apa yang terjadi setelah memecat Briliant Jerks?
Seorang Briliant Jerks tak pernah ingin mengakui kesalahan. Dalam pikirnya, perusahaanlah yang akan rugi ketika memecat seseorang yang berharga dan sepintar dirinya. Ia juga akan dibekali pesangon tinggi atas hasil kerjanya selama di perusahaan. Ia juga akan mudah diterima perusahaan lain dengan portofolionya atau mendirikan perusahaan baru dengan pengalamannya.
Perusahaan yang memecat akan terus berjalan. Tim yang terbentuk akan terus bekerja dan perusahaan lebih nyaman tanpa intimidasi dari si Briliant.(Sin/clue)







