SUASANA di Iran makin memanas. Unjuk rasa masyarakat sudah berlangsung selama lebih dari dua minggu. Di tengah kisruh situasi dalam negeri, Amerika mengancam akan melakukan penyerangan ke Iran dan mendukung aksi massa menentang pemerintah Iran. Tapi, elit pemerintahan Iran tetap bergeming dan menantang balik sikap Amerika.
Panglima Militer Iran Mayor Jenderal Amir Hatami menyatakan kesiapan jika terjadi perang. Amir bahkan menyebut kesiapan mereka sudah matang, belajar dari perang dengan Israel pada 2025 lalu.
“Pengalaman yang unik dan khusus bagi angkatan bersenjata Iran”, kata Amir dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim dilansir Al Jazeera, Rabu (14/1).
Menurutnya, tidak ada negara lain yang pernah berhadapan dengan Israel—yang ia sebut sebagai “rezim yang dipersenjatai teknologi serta dukungan Barat”.
Israel diketahui menghancurkan pusat-pusat permukiman di Iran. Mereka kemudian membalas serangan itu dan merusak sejumlah lokasi di wilayah Israel. Amerika Serikat juga melancarkan serangan terhadap tiga lokasi militer di Iran.
Hatami menegaskan, “Persiapan yang dilakukan selama enam bulan terakhir setelah perang 12 hari yang dipaksakan itu sepenuhnya memadai” untuk menghadapi ancaman yang dilontarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan saat ini ia tengah mempertimbangkan opsi “sangat keras” untuk menghukum Iran atas apa yang ia sebut sebagai tindakan represif brutal terhadap para demonstran.
Sementara itu, negara-negara barat yang tergabung dalam alianso NATO ikut mengecam Iran dan mendukung upaya penggulingan kepemimpinan Ali Khamenei.
Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan bahwa kepemimpinan Iran kemungkinan berada di “hari-hari dan minggu-minggu terakhirnya” seiring meluasnya gelombang protes yang mengguncang Republik Islam tersebut. Pernyataan itu disampaikan Merz saat melakukan kunjungan ke India, Selasa (13/1/2026).
Demonstrasi di Iran, yang semula dipicu keluhan atas kondisi ekonomi yang memburuk, kini berkembang menjadi tuntutan terbuka untuk menggulingkan rezim ulama yang telah berkuasa selama puluhan tahun. Merz mempertanyakan legitimasi pemerintah Teheran di tengah penindakan keras terhadap para demonstran.
“Saya berasumsi bahwa kita sekarang menyaksikan hari-hari dan minggu-minggu terakhir rezim ini,” ujar Merz, seperti dikutip Reuters.(*)










