Sebuah memoar karya Aurelie Moeremans menjadi diary yang tak lagi pribadi. Aurelie memutuskan untuk mempublikasikan kisahnya, melalui sebuah buku yang ia beri judul Broken Strings : Kepingan Masa Muda yang Patah.
Lugas, ringan dan mudah dimengerti membuat buku ini justru semakin menakutkan. Bukan caranya menulis, tetapi karena yang terjadi memang mengerikan. Dalam bukunya, Aurelie mengungkap pengalamannya menjadi korban child Grooming.
Menurut Dian Sasmita, Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Kamis (25/1/2026), Child grooming adalah upaya manipulatif pelaku terhadap korban dengan tujuan untuk memanfaatkan korban atau menikmati sesuatu dari korban. Dalam hal ini dapat tertuju pada tindakan kekerasan maupun pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa kepada korban yang masih dibawah umur. Child grooming biasanya dilakukan secara sistemis, terukur dan mengancam.
Ironinya, dalam buku ini, Komnas HAM bahkan turut menjadi bagian yang tak menguntungkan bagi Aurelie, yang saat itu berusia 15 tahun dan meminta perlindungan.
Siapa Aurelie?
Aurelie Moeremans adalah seorang aktris berdarah Indonesia-Belgia. Lahir 8 Agustus 1993, Aurelie adalah aktris. Ia yang pada saat memulai karirnya bahkan belum lancar berbahasa Indonesia, justru semakin digemari publik. Pada usia remajanya, ia memenangkan banyak audisi dan menjadi bintang di tanah air, membintangi banyak iklan dan sinetron.
Ia membintangi banyak film seperti : Baby Blues, Story of Dinda, Badoet, Kutukan Cakar Monyet dll. Lahir dari pasangan Sri Sunarti dan Jean Marc. Ia memiliki seorang adik bernama Jeremie Moeremans dan menikah pada 30 Desember 2024 lalu dengan Tyler Bigenho.
Pelaku Child Grooming Bernama Bobby
Dengan gayanya yang mengalir, Aurelie mengisahkan pertemuannya dengan Bobby. Ia mengemas semua orang dalam nama samaran. Kecuali dirinya. Para pembaca seolah ikut merasakan bagaimana halusnya seorang Bobby yang merupakan Groomer bagi Aurelie tiba-tiba masuk di kehidupannya. Yang pada awalnya hanya menyapa, duduk santai diruang tamu rumahnya, hingga bisa bebas memasuki kamar Aurelie dan menguncinya.
Bobby yang saat itu merupakan rekan sesama artis medekati Aurelie dengan cara yang awalnya normal. Memberi perhatian, memberikan pertolongan kecil hingga melempar humor. Memberikan kebaikan – kebaikan kecil yang pada akhirnya menjadi hutang budi. Dalam relasi kuasa yang begitu kuat, Aurelie yang saat itu berusia 15 tahun dan Bobby 29 tahun, hanya mengikuti alurnya. Menerimanya sebagai pacar hingga memaksanya menikah tanpa prosedur dan orang tua.
Belakangan diketahui, pernikahan tersebut tidak sah.
Bobby dalam ceritanya bukan hanya pedofil (penyakit yang menyukai anak kecil secara seksual) dan pelecehan seksual, tetapi juga pelaku kekerasan, memanipulasi publik, mengeksploitasi dan memisahkan Aurelie dari keluarganya bahkan dihari pernikahan. Dalam bukunya Bobby begitu Kejam. Bagaimana tidak, di usianya yang bahkan masih belum cukup umur, Aurelie bahkan telah diperkosa. Lebih parahnya, ini memoar, kisah nyata.
Kisahnya menggemparkan publik seketika. Menggeser popularitas Panji Mens Rea dan kisah perselingkuhan artis tanah air lainnya. Tapi ini bukan masalah popularitas, Aurelie ingin menyampaikan pesan bahwa Child Grooming bisa saja terjadi pada siapapun. Aurelie menjadi bukti bahwa negara dan hukum bahkan gagal untuk melindungi seorang anak yang saat itu mudah ditemui dan terus berada di layar televisi.
Klarifikasi dan Verifikasi
Artis yang pernah membintangi film berjudul Magic tersebut berhasil melempar daging segar di Padang rumput. Membiarkan para serigala mencium aromanya. Publik bergerak mencari tokoh – tokoh yang bertanggungjawab dalam ceritanya, khususnya Bobby. Jejak digital yang justru terlalu jelas dan vulgar pada belasan tahun yang lalu, justru memudahkan masyarakat untuk mencari tahu.
Cocoklogi publik menyeret nama Roby Tremonti yang merupakan mantan suami Aurelie. Merasa terganggu, Roby menggelar konferensi pers untuk mengklarifikasi dan menolak bahwa dirinya bukanlah Bobby pada Selasa (13/1/2026). Ia bahkan menunjukan sejumlah bukti bahwa ia memiliki pernikahan yang sah dengan Aurelie. Sayangnya, bukti-bukti tersebut justru memperjelas setiap detail yang tertulis dalam buku. Tanggal pernikahan yang sama, foto pernikahan tanpa orang tua, juga foto liburan yang diceritakan Aurelie sebagai panggung drama dalam bukunya.
“Ini bukan klarifikasi, ini verifikasi,” kata akun @must.a.nice saat mengomentari video klarifikasi Roby Tremonti.
Roby menunjukan kalender 10 Oktober 2011 yang menjadi hari pernikahannya di hari Senin. Dan hal tersebut bahkan telah dijelaskan Aurelie dalam bukunya.
Menyeret Tokoh Publik


Tak hanya Bobby, memoar tersebut menyeret Nikita Willy yang saat ini memiliki citra wanita elegan bak ibu peri sebagai salah satu artis papan atas yang melakukan bulliying padanya.
Lebih jauh, Aurelie membuat KPAI dan Seto Mulyadi atau kak Seto yang saat itu memimpin lembaga Komnas anak melakukan klarifikasi kepada publik. Dalam bukunya Komnas Anak telah abai terhadap kasus Aurelie belasan tahun yang lalu.
Jejak digital menuliskan bahwa Jean Marc, ayah Aurelie sempat melaporkan Roby Tremonti ke Komnas HAM. Namun tak ada tindakan.
“Pada pertemuan pertama setelah dilakukan pengaduan, belum adanya tindakan secara kongkrit. Tapi sekertaris Kak Seto meminta uang sebagai imbalan. Tapi ternyata tetap tidak ada tindakan. Awalnya 500 ribu,” kata Jean, Senin (13/12/2010) dikutip dari kapanlagi.com pada Kamis (15/1/2026).
Media saat itu, membungkus berita dengan narasi “Komnas Anak Anggap Ayah Aurelie Terlalu Agresif” .
Respon Pihak – pihak Berwenang Hanyalah Kata “Kecaman”
Baik kak Seto, Komnas Anak, maupun Rieke Diah Pitaloka, anggota Komisi XIII DPR RI yang merespon kasus ini hanya bersembunyi dibalik kata mengecam pelaku child grooming. Namun tak ada yang benar-benar nyata.
Perlahan pembaca justru lebih memahami posisi Aurelie dan keluarganya yang saat itu tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan ketika melaporkan kekerasan, Aurelie diminta video Bobby yang sedang memukul dirinya. Yang bahkan Aurelie tak pernah tahu kapan tangan tersebut akan melayang.
Yang berbeda adalah bahwa hari ini Aurelie memiliki media sosial. Tanpa perlu mengumpulkan banyak bukti, masyarakat semangat menggali para pelaku dan jejak-jejak digitalnya di masa lalu. Ia bahkan merilis bukunya dengan gratis. Menunjukan bahwa Aurelie tak mencari rupiah atas kasusnya. Ia bahkan harus mengorek luka lama yang bisa jadi belum sembuh dan berdarah kembali. Namun, baginya buku ini kemenangan dan penghargaan bagi dirinya yang sudah bertahan sejauh ini.
Publik tahu, jika lembaga dan negara tak mampu memberi sanksi pelaku, sanksi sosial yang akan bergerak. Karena sesama aktris, Bobby mungkin akan mengalami cancel culture atau bulan-bulanan masyarakat Indonesia. Yang saat ini belum jelas siapa sosok asli Bobby.
Dukungan datang dari berbagai sudut. Aurelie bersiap merilis buku fisiknya. Ia tahu bahwa pelaku masih bebas, belum menerima sanksi dan tak ingin ada Aurelie lain yang mengalaminya.
Pesan ringan yang ia sampaikan dalam bukunya begitu mudah diterima, Child Grooming Itu Nyata.(Sin/clue)
Penulis : Sinta’s Reading Room
Link buku Broken Strings
Versi bahasa Indonesia : https://drive.google.com/file/d/1mnM75U0nIVqZsOCJHA7mehZFg8pQxnXo/view
Versi bahasa inggris : https://
mhm43miVZGcFkg7ABsXCXxc8-Y/view







