Jakarta, Cluetoday.id — Wabah hantavirus tengah menjadi perhatian internasional setelah virus tersebut terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina dan menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia.
Hantavirus merupakan virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga gangguan ginjal, dengan gejala awal seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah Indonesia siap mengantisipasi kemungkinan penyebaran hantavirus varian Andes. Ia menjelaskan, Indonesia telah memiliki sistem skrining untuk mendeteksi hantavirus, termasuk melalui rapid test dan pemeriksaan PCR.
“Kami sudah koordinasi dengan WHO. Kami minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya, tetapi yang hasil masukannya kami terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum nyebar ke mana-mana,” kata Budi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/6/2026).
Epidemiolog Masdalina Pane menyebut hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir tercatat lebih dari 250 kasus suspek, namun hanya 23 kasus yang dinyatakan positif.
Saat ini, berbagai negara tengah melacak penumpang MV Hondius yang telah turun sebelum virus terdeteksi. Otoritas kesehatan Singapura juga mengonfirmasi dua warganya menjadi suspek hantavirus setelah mengikuti pelayaran kapal tersebut dan kini menjalani isolasi.
Sementara itu, World Health Organization menyatakan lima dari delapan kasus suspek telah terkonfirmasi positif. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, terdiri dari pasangan asal Belanda dan seorang perempuan asal Jerman.
Kasus Hantavirus di Indonesia
Selain itu, Budi menyebut terdapat dua kasus suspek hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan keduanya negatif dan telah dinyatakan sembuh.
Sepanjang 2024 hingga 2026, Indonesia mencatat 23 kasus hantavirus positif yang tersebar di sembilan provinsi, yakni Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Jakarta dan Yogyakarta masing-masing mencatat enam kasus positif, Jawa Barat lima kasus, sedangkan provinsi lainnya masing-masing satu kasus. Dari total kasus tersebut, tercatat tiga korban meninggal dunia.











